Jakarta, ruangenergi.com-Di tengah kegelisahan publik atas terus merosotnya lifting minyak nasional, peresmian proyek Chemical Enhanced Oil Recovery (Chemical EOR) di Lapangan Minas, Riau, sejatinya jauh melampaui makna sebuah seremoni industri migas.
Ia adalah penanda arah dan cermin keberanian: apakah negara ini masih memiliki nyali politik dan konsistensi kebijakan untuk menjaga kedaulatan energinya, atau justru memilih menyerah pada narasi “penurunan alamiah” yang terlalu sering dijadikan dalih.
Hari ini, lifting minyak Indonesia bertahan di kisaran 605 ribu barel per hari (ESDM, 2025) angka yang terasa timpang bila disandingkan dengan ambisi swasembada energi dan target produksi 1 juta barel per hari pada 2030.
Penurunan ini kerap dipersepsikan sebagai keniscayaan geologis, seolah cadangan telah benar-benar menua dan menipis. Padahal, persoalan utamanya bukan semata pada ketiadaan sumber daya, melainkan pada keterbatasan keberanian untuk mengelola lapangan-lapangan mature dengan teknologi lanjutan. Dalam konteks inilah, Enhanced Oil Recovery (EOR) tidak lagi layak diposisikan sebagai opsi tambahan, melainkan sebagai kebutuhan strategis nasional.
Lapangan Minas memberi pelajaran yang sangat berharga. Sebagai lapangan minyak terbesar di Asia Tenggara dengan produksi kumulatif lebih dari 4,4 miliar barel, Minas selama puluhan tahun menjadi tulang punggung lifting nasional. Keistimewaannya bukan hanya pada besarnya volume, tetapi juga pada mutu minyaknya.
Dikenal di pasar internasional sebagai Sumatra Light Crude (SLC), minyak Minas memiliki API gravity tinggi dan kandungan sulfur rendah karakteristik yang menjadikannya salah satu crude oil terbaik di dunia, bernilai tinggi dalam proses pengilangan, dan kompetitif di pasar global. Ironisnya, lapangan sebesar dan sebernilai ini justru sempat terjebak dalam fase pesimisme ketika produksi menurun tajam, seolah minyaknya benar-benar telah habis.
Teknologi anak negeri: Harapan Segar
Peresmian Chemical EOR di Minas pada 23 Desember 2025 kemarin menjadi momentum refleksi sekaligus ujian kebijakan. Penulis berkesempatan hadir langsung dalam peristiwa peresmian yang bersejarah tersebut. Yang terasa bukan sekadar peluncuran teknologi, melainkan pertaruhan keberanian negara untuk kembali berinvestasi pada lapangan tua sebuah keputusan yang mahal, tidak populer, dan menuntut konsistensi jangka panjang yang sering kali langka dalam siklus kebijakan kita.
Secara teknis, Chemical EOR di Minas menargetkan peningkatan recovery factor dari sekitar 56% menjadi kurang lebih 72%. Angka ini mengandung pesan penting: minyak itu belum habis. Yang sering kali habis justru kesabaran dan keberanian kita untuk mengelolanya secara serius.
Tambahan sekitar 16% dari oil in place berarti potensi puluhan hingga ratusan juta barel minyak baru yang selama ini tertinggal di dalam reservoir. Produksi awal sekitar 2.800 barel per hari diproyeksikan mulai terlihat pada pertengahan 2026, sebagai fase awal dari dampak jangka panjang yang jauh lebih signifikan.
Chemical EOR di Minas mengandalkan kombinasi Alkali, Surfactant, dan Polymer (ASP) yang diinjeksikan ke dalam reservoir. Alkali berfungsi menurunkan tegangan antarmuka minyak dan air, surfaktan melepaskan minyak yang terperangkap di pori-pori batuan, sementara polimer meningkatkan efisiensi dorongan fluida menuju sumur produksi. Teknologi ASP EOR ini bukanlah eksperimen laboratorium; ia telah teruji di berbagai lapangan mature di Amerika Serikat dan China dengan hasil peningkatan recovery factor yang nyata.
Optimisme terhadap Minas bukanlah angan-angan. Sejarah migas Indonesia telah lebih dulu menuliskan preseden kuat melalui Lapangan Duri yang juga di Riau. Ketika produksi Duri terus merosot pada awal 1970-an, keputusan menerapkan steam flood EOR sejak 1975 mengubah arah sejarah. Produksi yang semula hanya berkisar 60-70 ribu barel per hari melonjak hingga melampaui 300 ribu barel per hari pada puncaknya. Duri kemudian tercatat sebagai proyek EOR terbesar di dunia dan menjadi penopang utama ketahanan energi nasional selama puluhan tahun.
Hari ini, Chemical EOR di Minas berdiri di persimpangan sejarah yang serupa dengan Duri hampir lima dekade lalu. Bedanya, tantangan yang dihadapi jauh lebih kompleks: biaya lebih tinggi, tekanan fiskal semakin ketat, dan transisi energi global menuntut kebijakan yang jauh lebih cermat dan berimbang. Namun justru di tengah tekanan inilah negara diuji apakah berani mengelola lapangan mature berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, atau memilih jalan pintas melalui impor yang kian membebani neraca dan kedaulatan energi.
Chemical EOR sejatinya bukan semata inovasi teknis. Ia adalah pernyataan politik energi. Pesan bahwa Indonesia tidak ingin menjadi negara kaya sumber daya tetapi miskin keberanian. Bahwa migas, meski berada dalam arus transisi energi, tetap memiliki peran strategis sebagai penyangga ekonomi nasional, sumber penerimaan negara, dan fondasi ketahanan energi.
Chemical EOR di Minas adalah pesan optimisme: lapangan tua bukanlah lapangan mati. Dengan teknologi, tata kelola yang tepat, dan keberanian mengambil keputusan, lapangan mature justru dapat memasuki fase produktif kedua sebagaimana yang telah dibuktikan Duri.
Majulah Riau, Jayalah Indonesia
Bagi Riau, keberhasilan Chemical EOR di Minas berarti kesinambungan peran daerah sebagai jantung energi nasional. Bagi Indonesia, ini adalah peluang nyata untuk memperlambat penurunan lifting, mengurangi ketergantungan impor, dan menjaga stabilitas fiskal di tengah ketidakpastian global. Sejarah pernah berpihak pada Duri karena keberanian mengambil keputusan yang tidak mudah. Kini, melalui Chemical EOR, Minas sedang dipersiapkan untuk menulis sejarah yang sama bahkan mungkin lebih besar bagi masa depan migas Indonesia.
Semoga swasembada energi terwujud, lapangan pekerjaan tercipta dan teknologi Merah Putih mengangkat marwah Bangsa Indonesia.
Satria Antoni, PhD
Assistant Tenaga Ahli Menteri ESDM RI
Praktisi Migas, Alumni PhD Marine Geology (King Abdulaziz University, Saudi Arabia)
Kepala Lembaga Riset Universitas Insan Cita Indonesia (UICI)













