Palangkaraya, Kalteng, ruangenergi.com-Dunia sedang berubah. Bukan lagi sekadar perang dagang, melainkan perang memperebutkan investasi energi. Negara-negara berlomba menawarkan regulasi paling ramah, insentif paling menarik, dan citra paling hijau demi menggaet modal global. Di tengah pusaran itu, Indonesia berdiri dengan satu modal besar: kekayaan energi dan mineral.
Namun kekayaan alam saja tak lagi cukup.
Dalam satu dekade terakhir, transisi energi global menjelma menjadi agenda ekonomi paling strategis. Kendaraan listrik, baterai, hidrogen, hingga pembangkit energi terbarukan menjadi tulang punggung industri masa depan. Dan di balik semua itu, tersembunyi perebutan mineral kritis—nikel, tembaga, bauksit, hingga logam tanah jarang.
Indonesia berada di panggung utama. Cadangan nikel raksasa menjadikan negeri ini pemain penting industri baterai dunia. Kebijakan hilirisasi mengubah wajah ekspor nasional: dari bahan mentah menuju produk bernilai tambah. Smelter tumbuh, kawasan industri berkembang, investasi mengalir.
Namun pertanyaannya: apakah arus besar itu sudah merata?
Kalimantan Tengah: Frontier Baru Investasi
Selama ini, Kalimantan Tengah lebih dikenal sebagai wilayah hutan tropis, sungai panjang, dan perkebunan sawit. Namun peta investasi mulai berubah. Realisasi investasi daerah ini menembus puluhan triliun rupiah dalam beberapa tahun terakhir, didominasi sektor pertambangan dan sumber daya alam.
Artinya, Kalimantan Tengah bukan lagi sekadar halaman belakang ekonomi nasional. Ia mulai masuk radar investor.
Tetapi ada ironi klasik: wilayah kaya sumber daya sering berhenti di tahap ekstraksi. Bahan mentah keluar, nilai tambah pergi. Dampak lingkungan tinggal.
Di sinilah momentum baru diuji. Apakah Kalimantan Tengah akan menjadi sekadar frontier tambang, atau naik kelas menjadi pusat hilirisasi dan energi bersih?
Transisi Energi: Peluang yang Belum Terkunci
Berbeda dengan wilayah industri lama yang telah “terkunci” sistem energi fosil, Kalimantan Tengah justru memiliki ruang desain masa depan. Infrastruktur listriknya masih berkembang. Elektrifikasi desa terus diperluas. Ini tantangan, sekaligus peluang.
Provinsi ini memiliki kombinasi langka:
- Biomassa dari perkebunan dan kehutanan,
- Potensi hidro dari jaringan sungai luas,
- Lahan terbuka untuk pengembangan surya,
- Sumber daya mineral yang dapat diintegrasikan ke industri hilir.
Bayangkan jika kawasan industri di Kalimantan Tengah sejak awal dirancang berbasis energi terbarukan. Bukan hanya kompetitif dalam biaya jangka panjang, tetapi juga selaras dengan tuntutan rantai pasok global yang makin rendah karbon.
Dalam era ESG (Environmental, Social, Governance), reputasi hijau bukan lagi kosmetik—ia menjadi tiket masuk investasi.
Jurus Pemikat di Era Kompetisi Global
Dalam perang investasi, investor tidak memilih “negara” secara abstrak. Mereka memilih lokasi konkret—dengan kepastian tata ruang, infrastruktur jelas, dan regulasi stabil.
Peran Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia menjadi sentral. Kementerian ini bukan sekadar regulator teknis, melainkan arsitek daya saing energi nasional.
Ada tiga kunci utama:
1. Kepastian Regulasi Jangka Panjang
Industri energi bergerak dalam horizon puluhan tahun. Inkonsistensi kebijakan berarti risiko mahal.
2. Kecepatan dan Integrasi Perizinan
Tumpang tindih tata ruang antara kehutanan, pertambangan, dan konservasi sering menjadi batu sandungan di daerah. Kepastian spasial adalah syarat mutlak.
3. Kredibilitas Keberlanjutan
Investor global kini sensitif terhadap isu lingkungan dan sosial. Daerah dengan reputasi tata kelola baik lebih mudah mengakses pembiayaan internasional.
Jika prinsip ini diterapkan secara spasial—bukan hanya nasional—maka wilayah seperti Kalimantan Tengah bisa menjadi magnet investasi baru.
Indonesia Menang Jika Daerah Naik Kelas
Perang investasi global pada akhirnya adalah kompetisi antarwilayah. Negara yang mampu mengangkat daerah frontier menjadi pusat ekonomi baru akan memenangkan permainan jangka panjang.
Kalimantan Tengah memiliki semua elemen dasar: sumber daya, ruang pembangunan, dan arah kebijakan hijau yang mulai terbentuk. Tantangannya tinggal satu: konsistensi strategi.
Jika investasi hanya terkonsentrasi di wilayah industri lama, maka ketimpangan akan terus melebar. Tetapi jika kebijakan nasional benar-benar menjangkau frontier, Indonesia bukan hanya kaya sumber daya—ia menjadi negara yang mampu mengubah sumber daya menjadi ekosistem investasi berkelanjutan.
Energi selalu lebih dari sekadar komoditas. Ia adalah fondasi masa depan ekonomi.
Dunia bergerak cepat dalam perang investasi energi. Indonesia punya modal. Kalimantan Tengah punya ruang.
Kini pertanyaannya: siapa yang paling sigap mengubah peluang menjadi sejarah?
(Oleh: Dr. Yossita Wisman,SE.M.M.Pd. Dosen S2 IPS Pascasarjana UPR/Pengamat sosial Budaya/wakil ketua Bidang Budaya Dan pariwisata Dewan Adat Dayak(DAD) Kalimantan Tengah/anggota perkumpulan intelektual Dayak Indonesia)


