Pasokan LPG Beralih Arah, Indonesia Siapkan Kargo dari Tiga Benua

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Pergerakan pasokan energi nasional kembali menunjukkan dinamika baru. Di tengah ketidakpastian suplai dari Timur Tengah, Indonesia mulai mengalihkan sumber impor LPG ke sejumlah negara alternatif, termasuk Australia, Afrika, dan Amerika Serikat.

Seorang pejabat di lingkungan migas mengungkapkan bahwa langkah ini dilakukan sebagai strategi substitusi untuk menjaga ketahanan pasokan dalam negeri.

“Ini pengganti kargo Timur Tengah. April sudah mulai berdatangan,” ujarnya dalam percakapan internal yang mencerminkan situasi terkini di lapangan, seperti diceritakan kepada ruangenergi.com.

Dalam skema baru ini, pasokan LPG tidak lagi bertumpu pada satu kawasan. Untuk bulan April, tercatat masing-masing satu kargo berasal dari Australia, Afrika, dan Amerika Serikat. Pola yang sama diperkirakan berlanjut hingga Mei 2026.

Langkah diversifikasi ini dinilai penting untuk meredam risiko geopolitik sekaligus memastikan kesinambungan suplai. Namun, di balik strategi tersebut, terselip tantangan besar: harga.

“Harganya saja sadis,” kata pejabat tersebut, menggambarkan tekanan biaya yang harus ditanggung dalam pengadaan kargo baru.

Lonjakan harga impor LPG berpotensi merembet ke pasar domestik, khususnya untuk segmen non-subsidi seperti tabung 12 kg. Saat ini, harga eceran tertinggi (HET) berada di kisaran Rp185 ribu, namun di tingkat konsumen sudah menyentuh Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per tabung.

Ketika ditanya soal kemungkinan kenaikan harga, pejabat tersebut mengakui ada peluang ke arah sana.

“Mestinya yang 12 kg,” ujarnya singkat, meski ia juga mengaku belum dapat memastikan arah kebijakan ke depan.

Situasi ini sekaligus membuka kembali wacana penguatan energi alternatif berbasis gas. Infrastruktur jaringan gas (jargas) dinilai menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada LPG impor.

“Jargas aman. Saatnya CNG diperkuat,” tegasnya.

Penguatan compressed natural gas (CNG) dan perluasan jargas nasional dinilai semakin relevan, terutama di tengah volatilitas harga energi global. Dengan strategi yang tepat, Indonesia tidak hanya bisa menjaga stabilitas pasokan, tetapi juga menekan beban subsidi dan risiko gejolak harga bagi masyarakat.

Di tengah tekanan global, langkah cepat dan adaptif menjadi kunci. Diversifikasi pasokan mungkin solusi jangka pendek, namun transformasi energi tetap menjadi pekerjaan rumah besar yang tak bisa ditunda.