Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Kabar gembira datang dari sektor energi nasional. Setelah hampir satu dekade tren produksi minyak bumi terus merosot, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan capaian bersejarah dalam konferensi pers kinerja tahun 2025, Kamis (8/1/2026).
Untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun terakhir, lifting (salur) minyak bumi Indonesia mencatatkan kenaikan. Tak hanya itu, setoran ke kas negara dari sektor ini juga melampaui target yang ditetapkan.
Dalam laporannya, Bahlil mengungkapkan realisasi lifting minyak bumi sepanjang tahun 2025 mencapai rata-rata 605,3 ribu barel per hari (MBOPD). Angka ini setara dengan 100,05% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang dipatok sebesar 605 MBOPD.
“Lifting minyak bumi tahun 2025 mencapai rata-rata 605,3 MBOPD. Pertama kali naik dalam 9 tahun terakhir,” ungkap data Kementerian ESDM.
Kinerja positif di sektor hulu migas ini berdampak langsung pada kantong negara. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang dicatat Kementerian ESDM tembus Rp138,37 triliun. Capaian ini surplus alias mencapai 108,56% dari target tahun 2025. Kontribusi terbesar datang dari sektor sumber daya alam (SDA) Minerba dan Panas Bumi yang masing-masing realisasinya di atas 100%.
Kepercayaan investor terhadap sektor energi Indonesia juga terlihat kokoh. Total realisasi investasi sektor ESDM tahun 2025 menyentuh angka USD 31,7 miliar. Subsektor Minyak dan Gas Bumi (Migas) menjadi primadona dengan menyumbang investasi terbesar senilai USD 18,0 miliar, disusul Minerba sebesar USD 6,7 miliar.
Tahun 2025 juga menjadi tahun panen proyek strategis. Beberapa proyek “jumbo” yang diresmikan antara lain ekspansi Smelter Emas PT Freeport Indonesia di Gresik , serta ekosistem industri baterai listrik terintegrasi di Karawang yang diklaim sebagai yang terbesar di Asia Tenggara. Selain itu, kompleks petrokimia raksasa PT Lotte Chemical Indonesia di Cilegon juga resmi beroperasi.
Program mandatori biodiesel juga mencatatkan sukses besar. Kebijakan pencampuran bahan bakar nabati 40% (B40) terserap sebanyak 14,2 juta kiloliter (kL) sepanjang 2025.
Dampaknya tidak main-main. Program ini berhasil menekan impor solar sebesar 3,3 juta kL dan menghemat devisa negara hingga Rp130,21 triliun. Dari sisi lingkungan, penggunaan B40 sukses mengurangi emisi setara 38,88 juta ton CO2.
Listrik Merata dan Energi Hijau
Di sektor ketenagalistrikan, konsumsi listrik per kapita terus menanjak, mencapai 1.584 kWh per kapita pada 2025, melampaui target yang ditetapkan. Sementara itu, transisi energi terus berjalan dengan porsi bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) mencapai 15,75%, naik 1,1% dari tahun sebelumnya.
Kapasitas pembangkit EBT terpasang bertambah signifikan sebesar 15.630 MW, dengan kontribusi terbesar dari tenaga air (7.587 MW) dan bioenergi (3.148 MW).
Menutup laporannya, Kementerian ESDM menyoroti reformasi kebijakan yang lebih inklusif. Melalui Permen ESDM No. 14 Tahun 2025, pemerintah membuka peluang bagi masyarakat untuk mengelola 45.000 sumur minyak rakyat.
Selain itu, diterbitkan pula aturan yang melibatkan Koperasi, UMKM, dan Organisasi Keagamaan dalam pengelolaan sumber daya alam, menjadikan sektor pertambangan lebih partisipatif bagi masyarakat luas.













