Ilustrasi kendaraan bermotor listrik

Pemerintah Akan Bentuk Holding Indonesia Baterai

Jakarta, Ruangenergi.com – Pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan membentuk Holding Indonesia Battery, Electronic Vehicle (EV).

Hal tersebut seiring dengan kendaraan bermotor listrik yang sedang dikembangkan Pemerintah.

Nantinya dalam melakukan Holding Indonesia Battery, Pemerintah akan menugaskan PT Pertamina (Persero) selaku Holding BUMN Migas, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), dan MIND ID selaku Holding BUMN Pertambangan.

Direktur Utama MIND ID, Orias Petrus Moedak, dalam konferensi pers secara virtual mengatakan, pengembangan industri baterai ini sebenarnya sudah direncanakan sejak awal tahun 2020.

Pengembangannya nantinya akan menjangkau bisnis dari hulu ke hilir. Ia menambahkan, pada Februari 2020, Menteri BUMN, Erick Thohir, ternyata sudah mempersiapkan rencana tersebut dengan membentuk tim percepatan Holding Indonesia Battery.

“Tim percepatan Holding Indonesia Battery diketuai oleh Komisaris Utama MIND ID Pak Agus Tjahajana. Pak Menteri sudah mencanangkan upaya menjadikan Indonesia sebagai hub produksi material yang berguna menghasilkan baterai,” katanya (16/10).

Sementara, untuk anggota tim percepatan Holding Indonesia Battery, tersebut ditempatkan oleh, Direktur Utama Pertamina, Direktur Utama PLN, Direktur Utama MIND ID dan Antam.

“Saya rasa dari sekitar Februari tim sudah dibentuk dan selama pandemi ini sudah melakukan banyak hal,” paparnya.

Ia menjelaskan, saat ini tim tersebut tengah menyelesaikan kesepakatan pembentukan Holding Indonesia Battery dan tinggal melaporkannya ke Menteri BUMN.

Ia meyakini bahwa pembentukan holding tersebut selesai dalam tempo satu minggu ke depan.

“Jadi mereka lagi membicarakan. Minggu-minggu ini kalau lapor ke Pak menteri, ya jadi sudah. Satu minggu lah. Sampai Kamis depan lah. Kita dikejar-kejar Pak Menteri juga, ini masuk KPI kita juga. Jadi kita fokus itu,” imbuhnya.

Ia melanjutkan, setelah itu, barulah proses teknis pembentukan perusahaan, dan hal tersebut membutuhkan waktu sekitar 1-2 bulan.

Akan tetapi, ia belum dapat mengatakan lebih jauh terkait porsi kepemilikan masing-masing perusahaan dalam holding tersebut. Ai menambahkan, kebutuhan pendanaan dari seluruh proyek dari holding ini diperkirakan mencapai US$ 12 miliar .

Bahan paparan MIN ID

“Nanti kami akan diberitahu tim berapa porsinya, dari ekuitas berapa dan pinjaman berapa. Kalau dari Pak Menteri kan infonya US$ 20 miliar. Itu karena dia menghitung turunanya lebih jauh lagi dan itu terbuka untuk mitra lainnya. Jadi kalau mitra lain masuk bisa sampai US$ 20 miliar,” ungkap Orias Petrus.

BACA JUGA  Sebanyak 400 Petani di Cianjur Terima Bantuan Paket Mesin Pompa Air

Lebih jauh, ia mengatakan, terkait adanya dua perusahaan asing yang akan ikut dalam rencana pembangunan pabrik baterai EV untuk kendaraan bermotor listrik. Hal tersebut dibenarkan oleh Orias Petrus, satu dari Cina yakni Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dan satunya lagi dari Korea Selatan yaitu LG Chem Ltd.

Hilirisasi Nikel Tarik Minat Asing

Sebelumnya, Menteri BUMN, Erick Thohir, mengatakan, fokus Pemerintah dalam melakukan hilirisasi industri minerba (mineral dan batu bara), terutama nikel langsung mendapat respon positif dari investasi luar negeri (Cina dan Korea Selatan.)

Adalah Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL), perusahaan asal Cina dan LG Chem Ltd, asal Korea Selatan), yang tertarik untuk berinvestasi di Indonesia.

Pasalnya, kedua perusahaan tersebut merupakan produsen electric vehicle (EV) Battery untuk kendaraan listrik terbesar dunia yang mengisyaratkan akan bergabung dengan proyek investasi senilai US$20 miliar lebih dalam pengembangan rantai pasokan nikel di Tanah Air.

Menurutnya, Indonesia selama ini dikenal sebagai produsen dan eksportir nikel, bahan baku utama EV Battery, terbesar dunia yang menguasai 27% kebutuhan pasar global.

Kebijakan Kementerian BUMN dalam melakukan inovasi model bisnis di industri ini, sekaligus meningkatkan value chain nikel Nusantara yang berlimpah bertujuan untuk memanfaatkan keuntungan sekaligus membangun industri baterai lithium di dalam negeri.

“Ini sebuah angin segar. Usaha Indonesia yang memiliki kekayaan tambang berlimpah untuk melakukan hilirisasi industri minerba langsung mendapat respon bagus dari investor asing,” jelas Erick.

Ia menilai, ini merupakan bukti bahwa kebijakan Indonesia sudah tepat dalam menunjang industri berbasis battery lithium.

“Dengan kehadiran investasi luar negeri untuk menunjang program nasional di industri ini, maka saya yakin aspek keberlanjutan akan terus berkembang dan kita semakin kuat dalam daya saing untuk mendukung ketahanan energi bagi Indonesia,” papar Erick.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *