PERHAPI Dorong Literasi Tambang Lewat Workshop Mining for Journalist 2026, Mantap!

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta, ruangenergi.com — Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) kembali memperkuat komunikasi antara industri tambang dan media melalui penyelenggaraan Workshop Mining for Journalist (MFJ) untuk keempat kalinya. Kegiatan ini menjadi ruang pertukaran informasi sekaligus penguatan pemahaman wartawan terhadap dinamika sektor pertambangan nasional.

Workshop yang digelar pada 10 Februari 2026 di Jakarta ini menegaskan komitmen PERHAPI dalam membangun literasi publik mengenai industri pertambangan, termasuk isu kebijakan, transisi energi, hingga pengembangan sumber daya manusia di sektor minerba.

Ketua Umum PERHAPI, Sudirman Widhy Hartono, menegaskan bahwa kegiatan ini rutin dilakukan sejak 2023 dan menjadi sarana penting untuk memperkuat sinergi antara pelaku industri dan jurnalis energi. Selain mempererat hubungan kelembagaan, forum ini juga menjadi ruang berbagi pengetahuan dan diskusi isu strategis pertambangan nasional.

Industri pertambangan Indonesia saat ini menghadapi dinamika kebijakan dan tekanan global. Beberapa isu yang menjadi perhatian antara lain perubahan persetujuan RKAB kembali menjadi tahunan, penyesuaian kuota produksi batubara dan nikel, serta berbagai kebijakan lintas sektor yang berdampak langsung pada iklim investasi tambang.

PERHAPI menilai kolaborasi erat antara pemerintah dan pelaku industri menjadi kunci agar Indonesia tidak kehilangan momentum dalam memanfaatkan potensi mineral strategis di tengah transisi energi global.

Dalam sesi paparan, Prof. Irwandy Arif menyoroti peran mineral kritis sebagai fondasi transisi energi. Permintaan mineral diproyeksikan meningkat hingga 2030 seiring pertumbuhan populasi, ekspansi kelas menengah, dan transformasi energi global. Namun, ketidakpastian kebijakan dinilai dapat menghambat investasi sektor hulu.

Selain itu, pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia masih membutuhkan dukungan infrastruktur yang lebih kuat, termasuk integrasi rantai pasok bahan baku baterai.

Wakil Ketua Umum PERHAPI Resvani menekankan pentingnya pengembangan mineral strategis dan material maju untuk mendukung target Indonesia Emas 2045. Menurutnya, rendahnya eksplorasi, keterbatasan hilirisasi lanjutan, serta ketergantungan impor material berteknologi tinggi masih menjadi tantangan utama.

Ia juga menegaskan bahwa sektor minerba harus diposisikan sebagai instrumen strategis negara, tidak hanya sebagai sumber penerimaan jangka pendek, tetapi sebagai fondasi ketahanan industri, fiskal, dan keamanan nasional.

Dari sisi sumber daya manusia, peningkatan kompetensi insinyur dan profesional tambang dinilai krusial untuk menjawab kompleksitas industri modern, terutama terkait hilirisasi dan standar keberlanjutan.

Sementara itu, implementasi prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) juga semakin menjadi faktor penting dalam menarik investasi global dan menjaga keberlanjutan operasi tambang. PERHAPI bahkan telah mengembangkan konsep ekonomi hijau pertambangan untuk mendorong pemanfaatan lahan pascatambang dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar tambang.

Dalam penutup workshop, ditegaskan bahwa industri pertambangan harus dipandang sebagai katalis pembangunan regional. Artinya, tambang tidak hanya menjadi sumber ekonomi jangka pendek, tetapi juga alat transformasi menuju pembangunan berkelanjutan di daerah.

Melalui forum MFJ, PERHAPI berharap pemahaman publik terhadap industri pertambangan semakin komprehensif, sehingga sektor ini dapat terus berperan sebagai penggerak utama pembangunan nasional di tengah era transisi energi global.