Pertamina Drilling Unjuk Gigi di OTC Asia 2026, Bawa Solusi Terintegrasi hingga Teknologi Dongkrak Produksi Migas

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Kuala Lumpu, Malaysia, ruangenergi.com-PT Pertamina Drilling Services Indonesia kembali menunjukkan kelasnya di panggung global. Dalam ajang bergengsi Offshore Technology Conference Asia 2026, perusahaan ini tampil membawa satu pesan kuat: masa depan industri migas terletak pada integrasi, efisiensi, dan inovasi teknologi.

Selama tiga hari, 31 Maret hingga 2 April 2026, di Kuala Lumpur, Pertamina Drilling tak sekadar hadir—mereka datang dengan portofolio lengkap yang menggambarkan kekuatan operasional dari hulu ke hilir pengeboran.

Sorotan utama datang dari presentasi bertajuk “Pertamina Drilling Capabilities Through Integrated Project Management” yang dipaparkan oleh Ahmad Burhan Noviaris. Dalam paparannya, ia membuka fakta menarik: perusahaan kini mengoperasikan 57 rig—didominasi oleh rig darat dengan kapasitas beragam—serta didukung lebih dari 110 layanan pengeboran di seluruh Indonesia, dari Sumatera hingga Papua.

“Semua kapabilitas ini kami integrasikan untuk memastikan operasi yang efisien dan hasil yang optimal,” ujarnya.

Namun kekuatan Pertamina Drilling tidak berhenti di angka. Mereka membawa pendekatan baru melalui konsep Integrated Project Management (IPM), sebuah sistem yang menggabungkan layanan rig, engineering, hingga berbagai layanan pendukung dalam satu ekosistem terpadu. Tujuannya jelas: memangkas biaya, meningkatkan kecepatan kerja, dan memaksimalkan hasil produksi.

Lebih jauh, inovasi teknologi menjadi daya tarik tersendiri. Salah satunya adalah Extended Reach Reservoir Access (ERRA)—metode pemboran terarah yang dirancang untuk “menyisir” sisa cadangan minyak yang sulit dijangkau.

Dengan pendekatan ini, operator bisa membuat jalur horizontal pendek langsung menuju reservoir secara presisi. Hasilnya? Lonjakan produksi yang tidak main-main—hingga lima kali lipat pada reservoir karbonat, bahkan mencapai sepuluh kali lipat pada reservoir batu pasir.

Tak hanya itu, ERRA juga menawarkan efisiensi biaya karena dapat dioperasikan tanpa rig besar. Cukup dengan peralatan ringan seperti workover unit atau snubbing unit, teknologi ini sudah bisa dijalankan. Desainnya yang modular bahkan memungkinkan mobilisasi cepat hanya dengan kontainer standar.

“ERRA adalah solusi fleksibel dan ekonomis untuk mengoptimalkan cadangan migas yang tersisa,” jelas Burhan.

Di sisi lain, Pertamina Drilling juga menunjukkan keseriusannya dalam pengembangan sumber daya manusia melalui Indonesia Drilling Training Center (IDTC). Fasilitas ini dilengkapi simulator dan rig nyata, dirancang untuk mencetak tenaga kerja migas berstandar internasional dengan fokus pada keselamatan dan profesionalisme.

Partisipasi di OTC Asia 2026 bukan sekadar pamer teknologi. Momentum ini juga dimanfaatkan untuk membuka peluang kolaborasi global. Sejumlah perusahaan internasional seperti PTTEP, SLB, Halliburton, Baker Hughes, hingga Weatherford turut menjadi bagian dari penjajakan kerja sama strategis.

Langkah ini menegaskan ambisi Pertamina Drilling untuk tidak hanya menjadi pemain nasional, tetapi juga kompetitor serius di pasar internasional.

Dengan kombinasi kapabilitas operasional, inovasi teknologi, dan strategi kolaborasi global, Pertamina Drilling tampaknya sedang menapaki jalur cepat menuju panggung energi dunia.