Tokyo, Jepang, ruangenergi.com-Momentum bulan suci Ramadhan 2026 tampaknya membawa angin segar bagi proyek raksasa gas Indonesia. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyebut posisi Indonesia kini berada pada titik tawar yang sangat kuat dalam negosiasi penjualan LNG dari proyek Abadi Masela.
Berbicara pada Sabtu (14/3/2026), Djoko menyampaikan bahwa kondisi pasar global justru memberi keuntungan bagi pihak penjual. Jika pembeli internasional tidak menyepakati harga yang ditawarkan, Indonesia memiliki opsi strategis: seluruh LNG dari proyek tersebut bisa dialihkan untuk kebutuhan domestik melalui PT Perusahaan Gas Negara Tbk.
“Puji syukur di bulan suci Ramadhan ini Allah memberikan timing yang tepat. Kali ini pihak penjual memiliki bargaining power yang kuat. Jika buyer internasional tidak menerima harga yang ditawarkan, seluruh LNG dapat diserap untuk kepentingan domestik melalui PGN demi ketahanan dan kemandirian energi Indonesia,” ujar Djoko dalam laporannya seperti diceritakan kepada ruangenergi.com.
PGN Naik Kelas di Pasar LNG
Dalam skenario tersebut, PGN disebut berpotensi memainkan peran strategis baru. Perusahaan gas milik negara itu bahkan dinilai dapat naik kelas menjadi pembeli LNG utama setara dengan pembeli global.
Djoko menyebut posisi PGN kini bisa disejajarkan dengan sejumlah pemain besar dunia seperti JERA dari Jepang, serta perusahaan perdagangan energi global seperti bp Trading dan Chevron Trading.
“PGN kali ini bisa menjadi pahlawan bagi negeri,” katanya.
SKK Migas juga menetapkan tenggat waktu yang ketat dalam proses negosiasi harga LNG dari proyek Masela. Para pihak yang terlibat diminta sudah mengambil keputusan paling lambat bulan depan.
Jika kesepakatan tercapai, penandatanganan kontrak besar tersebut ditargetkan berlangsung dalam forum industri migas terbesar di Indonesia, yakni IPA Convention and Exhibition pada Mei 2026.
Dalam forum tersebut diharapkan dapat ditandatangani dokumen Head of Agreement (HOA) atau Gas Sales Agreement (GSA) yang bersifat mengikat, di hadapan Menteri Energi dan bahkan Presiden Republik Indonesia.
Tahun sebelumnya, pada acara IPA yang juga dihadiri Presiden RI, telah ditandatangani HOA non-binding antara pembeli domestik tradisional—PT PLN (Persero), PGN, serta PT Pupuk Indonesia (Persero)—dengan operator proyek Masela, Inpex Masela Ltd.
Setelah kontrak penjualan LNG disepakati, tahap berikutnya adalah negosiasi pembiayaan dengan lembaga keuangan internasional untuk mendukung pembangunan proyek Abadi Masela.
Targetnya, Final Investment Decision (FID) proyek raksasa ini dapat diteken pada Desember 2026.
Namun pemerintah juga menyiapkan opsi cadangan. Jika lembaga keuangan terlalu lama mengambil keputusan, maka lembaga investasi negara Danantara dapat mengambil peran pembiayaan.
Langkah tersebut dimaksudkan agar proyek Masela tidak lagi tertunda setelah bertahun-tahun menunggu kepastian investasi.
Sebelumnya, Djoko juga memastikan bahwa revisi Plan of Development (PoD) proyek gas raksasa di Blok Masela telah memperoleh persetujuan pemerintah.
“Sudah ok,” kata Djoko saat dikonfirmasi.
Persetujuan ini menandai fase krusial bagi proyek yang berlokasi di Laut Arafura tersebut. Dengan restu pemerintah, pengembangan lapangan kini dapat mulai bergerak menuju tahap implementasi fisik.
Agenda terdekat adalah groundbreaking pembangunan infrastruktur dasar, termasuk pembangunan jalan akses dan penyiapan lahan untuk fasilitas Onshore LNG (OLNG).
Kegiatan tersebut dijadwalkan mulai bulan depan.
Bagi industri migas nasional, perkembangan ini menjadi sinyal penting. Proyek Masela tidak hanya menjanjikan investasi besar, tetapi juga diharapkan menjadi penggerak ekonomi kawasan timur Indonesia sekaligus memperkuat pasokan gas nasional dalam jangka panjang.

