Kuala Lumpur, ruangenergi.com – Di tengah tekanan global menuju energi bersih, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) tampil percaya diri. Subholding Upstream Pertamina ini menegaskan langkahnya: menjaga pasokan energi nasional sekaligus mempercepat dekarbonisasi.
Komitmen itu disuarakan langsung dalam ajang bergengsi Offshore Technology Conference Asia (OTC Asia) 2026 di Kuala Lumpur, Kamis (2/4/2026). Di forum ini, PHE menunjukkan bahwa industri hulu migas bukan sekadar soal produksi, tetapi juga tentang masa depan energi yang lebih berkelanjutan.
VP Production & Project PHE, Benny Hidajat Sidik, menegaskan posisi strategis perusahaan. Menurutnya, sektor hulu migas masih menjadi tulang punggung ketahanan energi Indonesia. Namun, pendekatannya kini berubah—lebih efisien, lebih hijau, dan lebih adaptif terhadap tuntutan zaman.
“Produksi harus tetap andal, tapi di saat yang sama kami dorong peningkatan kinerja operasional yang berkelanjutan,” ujar Benny.
Raksasa Hulu Migas dengan Peran Vital
Saat ini, PHE mengelola 39 wilayah kerja migas, baik di dalam maupun luar negeri. Dari jumlah tersebut, 24 blok dioperasikan langsung dan 15 lainnya sebagai mitra non-operator.
Kontribusinya tidak main-main: sekitar 65% produksi minyak nasional dan 36% produksi gas berasal dari portofolio PHE. Angka ini menegaskan peran sentral perusahaan dalam menjaga stabilitas energi Indonesia.
Lima Strategi untuk Masa Depan
Untuk menjawab tantangan energi dan keberlanjutan, PHE mengusung lima pilar utama:
•baseline maintenance
•production growth
•resource growth
•merger & acquisition
•sustainability
Strategi ini dirancang untuk menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan tanggung jawab lingkungan.
Dekarbonisasi Jadi Agenda Utama
Di sisi lain, PHE juga mempercepat langkah menuju energi rendah karbon. Program Zero Routine Flaring menjadi salah satu andalan, sejalan dengan target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia dan ambisi Net Zero Emission (NZE).
Upaya ini diperkuat melalui efisiensi energi, peningkatan integritas aset, hingga pemanfaatan teknologi rendah karbon. Salah satu fokus utamanya adalah pengembangan Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS).
Hingga 2024, PHE telah menginisiasi 11 proyek CCS/CCUS yang kini berada dalam tahap studi teknis dan pilot project—sebuah sinyal kuat bahwa transformasi energi bukan sekadar wacana.
Tak berhenti di situ, PHE juga mulai menjajaki peluang bisnis baru seperti blue hydrogen dan ammonia, membuka jalan menuju ekonomi rendah karbon.
ESG dan Integritas Jadi Fondasi
Transformasi PHE tidak hanya soal teknologi, tetapi juga tata kelola. Perusahaan terus memperkuat aspek Environmental, Social, and Governance (ESG), yang tercermin dari berbagai penghargaan, termasuk Indonesia Corporate Sustainability Award.
PHE juga menegaskan komitmen zero tolerance terhadap penyuapan, melalui implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) berstandar ISO 37001:2016.
Menjaga Produksi, Menjaga Masa Depan
Ke depan, PHE akan terus memainkan dua peran sekaligus: sebagai penjaga ketahanan energi nasional dan motor transisi menuju energi bersih.
Dengan strategi yang menyeimbangkan pertumbuhan bisnis dan keberlanjutan, PHE ingin memastikan satu hal—energi tetap tersedia hari ini, tanpa mengorbankan masa depan.
“Ini tentang menciptakan nilai jangka panjang, tidak hanya bagi perusahaan, tetapi juga bagi seluruh pemangku kepentingan,” tutup Benny.


