Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com— Direktur Utama Pertamina EP Cepu Regional Indonesia Timur, Muhamad Arifin, memaparkan perkembangan signifikan produksi gas Lapangan Jambaran Tiung Biru (JTB) dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (12/11/2025).
Dalam paparannya, Arifin menegaskan bahwa produksi gas JTB terus menunjukkan tren positif meskipun dihadapkan pada tantangan internal maupun eksternal.
Mengawali penjelasan, Arifin menyampaikan bahwa Pertamina EP Cepu (PEPC) adalah operator lapangan JTB, yang merupakan bagian dari kerja sama dengan ExxonMobil di wilayah Blok Cepu. Ia menekankan bahwa lapangan JTB berbeda dari struktur lain yang sudah menurun produksinya, karena JTB justru baru memulai fase produksi setelah pandemi.
“Lapangan JTB baru kita start up di pertengahan 2023 setelah COVID-19, dan alhamdulillah proyek Jambaran Tiung Biru bisa kita selesaikan,” ungkap Arifin.
Menurut Arifin, sepanjang 2024 produksi terus meningkat. Secara rata-rata, JTB menghasilkan 197 MMSCFD gas dan 1.700 BCPD kondensat. Peningkatan signifikan terjadi hingga 30 September 2025, ketika produksi gas sudah mencapai sekitar 230 MMSCFD dengan kondensat hampir 2.000 BCPD.
Target 2025 dan Tantangan Low Demand
Arifin memaparkan bahwa sepanjang 2025, produksi rata-rata diproyeksikan mencapai 233 MMSCFD gas dan sekitar 2.014 BCPD kondensat. Namun, capaian tersebut baru berada di kisaran 90 persen dari target maksimal.
Ia menjelaskan dua faktor utama yang menjadi tantangan produksi, yakni: tantangan internal operasional. Tantangan eksternal berupa rendahnya kebutuhan gas (low demand), khususnya di wilayah Jawa Timur—terutama saat akhir pekan dan hari libur.
“Kalau kita naikkan produksi sedikit saja dari 230, tekanan pipa PGN sudah menyentuh 635 psi. Itu sudah batas, tidak bisa kita naikkan lagi,” jelas Arifin. Kondisi tersebut membuat suplai gas harus disesuaikan dengan daya tampung jaringan pipa.
Arifin optimistis produksi gas JTB akan mencapai full capacity sebesar 340 MMSCFD pada tahun 2026. Kenaikan ini baru dapat terjadi setelah terhubungnya pipa Grisem dengan jaringan gas Jawa Barat.
“Informasi dari SKK Migas, setelah bulan Maret 2026 ketika pipa Gersem (Grisik-Semarang) bisa terkoneksi dengan Jawa Barat (pipa CISEM), produksi JTB bisa meningkat ke full capacity,” ungkap Arifin dengan semangat.
Arifin menutup pemaparannya dengan komitmen PEPC untuk terus menjaga kinerja operasional dan mengoptimalkan kontribusi gas JTB bagi ketahanan energi nasional.
“Demikian yang bisa kami sampaikan. Terima kasih. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” tutupnya.













