Saat Minyak Warga dan Pertamina Bersatu Demi Merah Putih, Good News!

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Tempino, Jambi, ruangenergi.com – Industri hulu minyak dan gas (migas) Indonesia mencatat sejarah baru tepat di hari Natal, Kamis, 25 Desember 2025. Untuk pertama kalinya, minyak hasil produksi dari sumur masyarakat (sumur warga) secara resmi mengalir masuk dan tercatat di stasiun pengumpul (Gathering Station) Tempino milik Pertamina.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, menyampaikan kabar gembira ini langsung kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Ia menyebut momen ini sebagai pencapaian bersejarah yang terjadi di bawah kepemimpinan Menteri Bahlil.

“Alhamdulillah, industri hulu migas kembali mencatat sejarah. Untuk pertama kalinya, minyak dari sumur masyarakat mengalir resmi dan tercatat sebagai bagian produksi minyak nasional di hari Natal yang penuh kasih ini,” ungkap Djoko dalam laporannya, Kamis (25/12/2025), seperti diceritakan kepada ruangenergi.com.

Dari Jerigen hingga Masuk Pipa Negara

Perjalanan minyak rakyat ini hingga bisa diterima oleh standar Pertamina ternyata melalui proses panjang yang melibatkan pemberdayaan UMKM lokal. Berdasarkan data lapangan dan skema alur dari Koperasi Produsen Batanghari Sinar Energi, proses ini mengubah stigma penambangan rakyat menjadi lebih terkelola dan profesional.

Djoko menjelaskan mekanisme ketat yang diterapkan sebelum minyak diserahterimakan. Minyak dari sumur warga awalnya ditampung dalam jerigen besar dan diangkut menggunakan mobil colt. Tidak langsung dikirim, minyak tersebut harus melalui proses “pematangan” atau pengendapan.

“Tahap pertama diendapkan sementara di gudang selama kurang lebih 4 hari. Kemudian diangkut truk ke tangki portabel yang lebih besar untuk diendapkan lagi selama 2 hari. Tujuannya agar air terpisah sepenuhnya dari minyak,” jelas Djoko.

Setelah dipastikan bersih dan memenuhi standar, minyak tersebut diangkut menggunakan armada tangki masyarakat menuju Tank Tos Tempino (Tuas Mas). Di sinilah integrasi terjadi: pipa milik Koperasi Unit Desa (KUD) terkoneksi langsung dengan pipa Tangki Produksi 01 Pertamina.

Masuknya minyak sumur warga ke jalur distribusi resmi Pertamina (mulai dari Tangki Produksi Jambi hingga ke Kilang Pertamina Gerong, Sumsel) menandakan era baru kolaborasi antara negara dan masyarakat.

Langkah ini tidak hanya mendongkrak angka produksi minyak nasional, tetapi juga melegalkan dan memberdayakan ekonomi masyarakat sekitar tambang yang selama ini beroperasi secara informal.

“Atas perhatian, arahan, dan dorongan semangat dari Bapak Menteri (Bahlil), kami ucapkan terima kasih,” tutup Djoko mewakili kolaborasi SKK Migas, Pertamina, dan para pelaku UMKM migas.

Momentum di penghujung tahun 2025 ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara regulasi pemerintah dan potensi rakyat bisa menjadi solusi jitu untuk ketahanan energi nasional.