Sanga Sanga: Cinderella Tua yang Kembali Dilirik

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Muara Badak, Kalimantan Timur —Di tengah hutan dan rawa Kutai Kartanegara, pipa-pipa baja itu masih berdetak pelan. Tidak lagi muda, catnya mulai pudar, suaranya tak lagi lantang.

Namun ia belum menyerah pada usia. Seperti Cinderella yang lama tersisih di sudut istana, WK Sanga Sanga menunggu saatnya kembali dilihat—dan disentuh—dengan penuh harapan.

WK Sanga Sanga telah beroperasi sejak lebih dari 50 tahun dengan luas wilayah 1.942 km², meliputi 38 desa dan 6 kecamatan yang seluruhnya terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Terdiri dari 7 lapangan migas di daratan (onshore), yaitu Semberah, Badak, Lampake, Nilam, Pamaguan, Mutiara, dan Beras dengan fasilitas perpipaan sepanjang lebih dari 300 km.

Di sinilah Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) berdiri. Sebuah lapangan migas tua, matang, bahkan oleh sebagian orang dianggap selesai ceritanya. Tapi sejarah rupanya tak pernah benar-benar menutup buku terakhirnya. Ruangenergi.com, berkesempatan datang ke sana, di pertengahan Desember 2025 ini.

“Lapangan ini memang sudah mature,” ujar Triono Hari Wibowo, Section Head North Area Operations PHSS, yang akrab disapa Pak Bowo, sambil menatap fasilitas produksi yang telah bekerja puluhan tahun. “Tapi dengan inovasi dan teknologi, kami buktikan bahwa umur bukan akhir cerita.”

Sanga Sanga adalah Cinderella industri migas. Dulu ia muda dan memesona. Pada awal 1970-an, penemuan raksasa gas Badak oleh Roy Huffington menjadikannya primadona. Dunia menoleh. Gasnya mengalir hingga Jepang, dan dari tanah inilah LNG pertama di dunia diproses di PT Badak NGL pada 1977.

Lalu waktu berjalan. Produksi menua. Tekanan menurun. Teknologi analog mulai tertinggal. Sang Cinderella perlahan ditinggalkan pesta. Hingga akhirnya, pada 2018, sepatu kaca itu kembali ditemukan.

Pulang ke Pangkuan Negeri

Sejak 8 Agustus 2018, PHSS resmi mengambil alih pengelolaan Blok/WK Sanga Sanga dari perusahaan multinasional yang telah mengelolanya hampir setengah abad. Kontrak baru ini berlaku hingga 2038—rentang waktu panjang yang menuntut lebih dari sekadar bertahan hidup.

PHSS berada di bawah Subholding Upstream Pertamina Hulu Energi (PHE), tepatnya Pertamina Hulu Indonesia (PHI) Region 3 Kalimantan. Bersama EP Tanjung, EP Sangatta, dan EP Sangasanga, PHSS mengelola Zona 9—salah satu tulang punggung produksi migas Kalimantan Timur.

Wilayah kerjanya membentang sekitar 2.000 kilometer persegi di daratan Kutai Kartanegara. Tujuh area operasi—Sembera, Badak, Kelampake, Nilam, Pamaguan, hingga Mutiara—menjadi saksi bahwa lapangan tua ini belum habis tenaganya.

Cinderella tua ini ternyata masih menyimpan denyut yang kuat.

Tahun 2024, PHSS mencatat produksi rata-rata 10.700 barel minyak per hari dan 72 MMSCFD gas. Namun justru pada Semester I 2025, produksinya melonjak: 12.700 barel minyak per hari dan 93 MMSCFD gas di wellhead, dengan gas sales sekitar 80 MMSCFD.

Hingga November, capaian minyak telah menembus 114 persen dari target BPNB. Menjelang akhir tahun, produksi liquid bahkan mendekati 14 ribu barel per hari.

“Lapangan tua biasanya bertahan di bawah target,” kata Bowo sambil tersenyum. “Di sini, kami justru di atas target.”

Teknologi sebagai Sepatu Kaca, Cinderella yang Menolak Tua

Kebangkitan Sanga Sanga tak terjadi dengan sihir, melainkan dengan teknologi. Salah satunya True Tubing Electrical Submersible Pump (TTESP). Berbeda dari ESP konvensional yang membutuhkan rig besar dan operasi kompleks, TTESP dapat dijalankan cukup dengan wireline—lebih cepat, lebih murah, dan jauh lebih efisien.

Di lapangan Mutiara, tiga sumur yang telah menerapkan TTESP menyumbang tambahan produksi sekitar 250 barel minyak per hari.

“Kalau bermasalah, tidak perlu mobilisasi rig. Itu efisiensi besar, baik waktu maupun biaya,” jelas Bowo.

Teknologi ini kini bersiap direplikasi ke sumur-sumur lain, termasuk di Sembera dan area PHSS lainnya. Seperti sepatu kaca Cinderella, TTESP pas dengan kondisi lapangan—membuktikan bahwa yang lama belum tentu tak cocok dengan yang baru.

Transformasi belum berhenti. PHSS juga menyiapkan high pressure compressor untuk memberi napas baru pada sumur-sumur tua.

Tahun 2025, satu unit akan dipasang di Sembera, satu unit tambahan di Mutiara, dan di Nilam dilakukan penggantian dari unit sewaan ke unit permanen.

Dengan tekanan meningkat dari sekitar 600 psi menjadi di atas 1.000 psi, sumur diharapkan mampu memproduksi dari kedalaman yang lebih dalam.

“Kalau kedalaman bertambah, peluang produksinya juga ikut bertambah,” ujar Bowo.

Di ruang operator North Area Operations PHSS, mesin analog peninggalan HUFFCO masih berdiri. Diam. Senyap. Angkuh sebagai artefak sejarah.

“Ini mesin operator pertama peninggalan Huffco,” kata Bowo sambil menepuk panel tua itu. “Banyak yang tak tahu, ini bagian dari sejarah.”

Kini, ruang kontrol dipenuhi layar digital. Namun denyut yang dipantau tetap sama: gas dan minyak yang sejak setengah abad lalu menjadi nadi Kalimantan Timur.

Tujuh tahun sejak dikelola PHSS, kontribusinya mencapai 58 persen minyak dan 89 persen gas di wilayahnya.

Sanga Sanga hari ini bukan lagi lapangan yang sekadar dikenang. Ia adalah Cinderella tua yang kembali dilirik—bukan karena nostalgia, melainkan karena potensi yang masih nyata.

“Bukan sekadar bertahan,” kata Bowo pelan. “Kami ingin terus memberi kontribusi nyata bagi energi Indonesia.”

Di Sanga-Sanga, usia bukan alasan untuk berhenti. Selama teknologi, inovasi, dan semangat masih menyala, Cinderella ini akan terus menolak tua—dan tetap hidup untuk negeri.