SKK Migas: Habis Lebaran, Groundbreaking Masela

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Kabar gembira datang bagi masyarakat Maluku dan industri hulu migas nasional. Pemerintah memastikan proyek raksasa Blok Masela segera memasuki fase konstruksi fisik.

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyampaikan bahwa groundbreaking proyek EPCI Masela akan dilakukan setelah Lebaran 2026.

“Habis lebaran groundbreaking Masela,” kata Djoko kepada Ruangenergi.com, Selasa (24/2/2026) dalam bincang virtual bersama ruangenergi.com, Selasa (24/02/2026), di Jakarta.

Pernyataan singkat itu menjadi sinyal kuat bahwa proyek LNG terbesar yang saat ini dikembangkan di Indonesia Timur tersebut akhirnya benar-benar bergerak ke tahap konstruksi. Proyek ini dikelola oleh Inpex Masela Ltd. sebagai operator Blok Masela.

Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah memberikan persetujuan atas dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) untuk pengembangan Blok Masela.

Persetujuan AMDAL ini menjadi tonggak krusial. Tanpa dokumen lingkungan yang disahkan, proyek tidak dapat melangkah ke tahap konstruksi fisik. Dengan keluarnya izin tersebut, salah satu “batu sandungan” administratif terbesar dalam proyek Masela resmi terlewati.

Bagi investor dan pelaku industri, restu lingkungan ini juga mencerminkan bahwa desain pengembangan lapangan—termasuk fasilitas LNG darat (onshore)—telah dinilai memenuhi aspek kelayakan lingkungan.

Proyek Strategis di Timur Indonesia

Blok Masela—yang dikenal dengan pengembangan Lapangan Abadi—merupakan salah satu proyek gas terbesar di Indonesia, berlokasi di Laut Arafura dan fasilitas LNG-nya direncanakan dibangun di darat di wilayah Maluku.

Proyek ini telah melalui perjalanan panjang, mulai dari perubahan skema pengembangan dari offshore ke onshore, proses revisi rencana pengembangan (PoD), hingga dinamika komersial dan teknis yang cukup kompleks.

Dengan target groundbreaking usai Lebaran, tahapan EPCI (Engineering, Procurement, Construction, and Installation) akan resmi dimulai. Artinya, pekerjaan rekayasa detail, pengadaan peralatan, hingga konstruksi fasilitas produksi dan LNG akan berjalan lebih masif.

Bagi masyarakat Maluku, groundbreaking bukan sekadar seremoni. Ini adalah awal pergerakan ekonomi yang lebih nyata: pembukaan lapangan kerja, kebutuhan logistik, jasa konstruksi, hingga multiplier effect bagi UMKM lokal.

Pemerintah berharap proyek ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga menjadi motor pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia.

Dengan izin lingkungan sudah di tangan dan jadwal groundbreaking sudah disebut secara terbuka oleh Kepala SKK Migas, publik kini menunggu realisasi di lapangan: apakah setelah Lebaran nanti, sejarah baru industri migas Maluku benar-benar dimulai.