Jakarta, ruangenergi.com – Dalam industri hulu migas, perforasi sering dianggap sebagai tahapan rutinitas yang “pasti ada” dalam penyelesaian sumur. Padahal, kualitas perforasi menentukan performa jangka panjang sebuah sumur—baik deliverability, skin, maupun kebutuhan stimulasi tambahan. Meskipun biayanya relatif kecil dibanding drilling atau workover, perforasi adalah titik awal yang menentukan apakah sebuah sumur dapat mengalir optimal atau justru menghasilkan produksi yang jauh di bawah potensinya.
Di Indonesia, praktik perforasi masih sangat beragam. Banyak operator mengandalkan data uji perforator berbasis beton—standar lama yang tidak lagi merepresentasikan kondisi bawah permukaan. Padahal, secara global industri sudah bergerak menuju pengujian berbasis stressed rock dan teknologi reactive liner yang terbukti memberikan penetrasi lebih stabil, terowongan lebih bersih, dan peningkatan flow efficiency yang signifikan.
Artikel ini mengulas bagaimana peningkatan standar dan adopsi teknologi terbaru dapat memberikan dampak langsung terhadap produksi nasional—tanpa sumur baru, tanpa rig tambahan, dan tanpa CAPEX besar.
Mengapa Data Perforasi Berbasis Beton Tidak Lagi Memadai
Sebagian besar shaped charge yang digunakan di pasar domestik masih mengacu pada pengujian beton (API RP 19B Section 1). Pengujian ini bermanfaat sebagai baseline kualitas manufaktur, tetapi memiliki keterbatasan fundamental:
- Beton tidak memiliki tekanan konfining seperti batuan reservoir.
- Reaksi jet shaped charge pada media tak-tertekan sangat berbeda dari media tertekan.
- Variasi penetrasi pada beton sangat besar, dapat mencapai >40%.
- Tidak ada informasi mengenai flow efficiency atau karakteristik terowongan sebenarnya.
Akibatnya, shaped charge yang terlihat unggul pada uji beton sering kali tidak menunjukkan performa yang sama ketika ditembakkan ke formasi bawah permukaan.
Sebaliknya, industri global kini menggunakan pengujian berbasis stressed rock, seperti API RP 19B Section 2 dan Section 4. Metode ini menggunakan batuan yang diberi tekanan overburden dan tekanan pori sehingga menyerupai kondisi reservoir. Data yang dihasilkan jauh lebih representatif:
- kedalaman penetrasi aktual,
- uniformitas terowongan,
- diameter inlet hole,
- dan core flow efficiency, yaitu indikator langsung kemampuan terowongan mengalirkan fluida.
Dengan kata lain, pengujian ini memberi gambaran nyata performa downhole—bukan sekadar angka katalog.
Reactive Liner: Evolusi Teknologi Shaped Charge
Perkembangan penting dalam teknologi perforasi selama satu dekade terakhir adalah hadirnya reactive liner. Berbeda dari shaped charge konvensional yang mengandalkan energi ledakan tunggal, reactive liner menghasilkan reaksi eksotermik sekunder dalam terowongan perforasi. Efeknya mencakup:
- Pembersihan serpihan dari dalam terowongan perforasi.
- Penghilangan crushed zone, yang merupakan penyebab utama skin tinggi.
- Pembentukan micro-fracture di ujung terowongan.
- Peningkatan flow efficiency tanpa membutuhkan underbalance ekstrem.
Berbagai uji laboratorium menunjukkan peningkatan total flow efficiency hingga lebih dari 30% dibanding shaped charge konvensional—bahkan dengan kedalaman penetrasi yang setara.
Keunggulan lainnya: reactive liner tidak memerlukan perubahan prosedur, tidak memerlukan gun baru, dan tidak menambah risiko operasi. Teknologi ini langsung kompatibel dengan sistem perforasi yang sudah ada.
Dampak Langsung bagi Lapangan Migas Indonesia
Sebagian besar lapangan migas Indonesia memiliki kondisi yang membuat perforasi yang baik semakin penting:
- reservoir yang menua,
- tekanan yang menurun,
- sumur gas yang membutuhkan deliverability tinggi,
- biaya workover yang makin mahal.
Dalam kondisi tersebut, perforasi yang kurang optimal menyebabkan:
- produksi rendah,
- kebutuhan stimulasi tambahan,
- biaya operasi meningkat,
- interpretasi reservoir menjadi bias karena aliran terhambat di near-wellbore.
Dengan beralih ke shaped charge berbasis pengujian stressed rock dan teknologi reactive liner, operator dapat memperoleh:
- peningkatan AOF,
- penurunan skin (bahkan ke skin negatif),
- berkurangnya kebutuhan acidizing,
- performa perforasi yang lebih konsisten,
- peningkatan deliverability tanpa CAPEX tambahan.
Berbagai studi lapangan internasional mencatat sumur yang ditembak ulang menggunakan reactive liner mencatat peningkatan produksi 20–2000% tergantung kondisi reservoir—angka yang tidak mungkin dicapai dengan perforasi konvensional.
Mengapa Indonesia Perlu Bergerak Sekarang
Ada tiga alasan utama:
- Lifting stagnan, sementara perforasi adalah intervensi paling murah
Banyak sumur sebenarnya dapat menghasilkan lebih banyak, tetapi terhambat pada near-wellbore zone akibat perforasi yang tidak optimal.
- Standar pengadaan masih berbasis beton
Banyak tender perforasi nasional masih mensyaratkan data Section 1, tanpa mempertimbangkan uji Section 2 atau Section 4.
- Tidak memerlukan CAPEX besar
Reactive liner dan shaped charge berbasis stressed rock dapat langsung diterapkan tanpa penyesuaian peralatan.
Dengan pembaruan standar saja, peningkatan deliverability 20–30% per sumur adalah target yang sangat realistis.
Kesimpulan
- Perforasi adalah faktor kritis dalam produktivitas sumur migas dan sangat menentukan kejernihan alir awal.
- Pengujian berbasis beton tidak lagi representatif dan dapat menyebabkan salah pemilihan shaped charge.
- Pengujian berbasis stressed rock memberikan data yang lebih realistis dan konsisten.
- Teknologi reactive liner terbukti meningkatkan flow efficiency, menurunkan skin, dan meningkatkan deliverability sumur.
- Indonesia berpotensi meningkatkan lifting tanpa pengeboran baru melalui pembaruan standar perforasi dan adopsi teknologi ini.
Rekomendasi
- Operator perlu memperbarui spesifikasi teknis perforasi dengan memasukkan pengujian berbasis stressed rock.
- Penyedia jasa perforasi perlu menyediakan shaped charge berbasis teknologi reactive liner.
- Regulator dapat mempertimbangkan pembaruan standar atau pedoman teknis perforasi sesuai praktik global.
- Operator dapat melakukan pilot test reactive liner pada sumur-sumur kandidat untuk mengukur peningkatan deliverability.
- Pembaruan standar pengadaan diperlukan untuk menghindari penggunaan teknologi lama yang tidak relevan dengan kondisi reservoir saat ini.
Referensi
- Drilling Manual – Shaped Charges for Oil Well Perforating
- Enverus – Well Completion 101: Well Perforation
- Oilfield Technology – Perforating Myths and Misconceptions
- API RP 19B Testing – Jet Research Center
- Berbagai publikasi SPE mengenai stressed rock testing dan reactive liner

Oleh: Hikmat Nugraha – Pengamat dan Praktisi Industri Hulu Migas













