Makasar, Sulsel, ruangenergi.com— Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyoroti persoalan teknis krusial di sektor energi nasional, terutama banyaknya sumur minyak tua yang membuat lifting migas belum optimal. Kondisi ini dinilai sebagai tantangan nyata yang harus segera diatasi jika Indonesia ingin memperkuat ketahanan energi dan menekan ketergantungan impor.
Menurut Bahlil, intervensi teknologi menjadi langkah tak terelakkan untuk menghidupkan kembali potensi produksi dari sumur-sumur lama. Dari total sekitar 39.000–40.000 sumur migas yang ada di Indonesia, hanya sekitar 17.000–18.000 yang masih aktif beroperasi, sementara sisanya berhenti karena faktor usia.
“Sumur-sumur tua ini mau tidak mau kita harus intervensi lewat teknologi. Tidak ada cara lain. Dari total puluhan ribu sumur itu yang beroperasi hanya sekitar separuhnya. Selebihnya idle karena sudah tua, dan ini harus kita kerjasamakan,” jelasnya, dikutip dari website ESDM.
Selain revitalisasi sumur tua, pemerintah juga menyiapkan langkah strategis lain, yakni mempercepat realisasi sumur yang sudah masuk tahap Plan of Development (PoD). Proyek-proyek yang selama ini tertahan akan didorong agar segera masuk fase produksi.
Tidak hanya itu, Kementerian ESDM berencana membuka tender 110 blok migas baru guna memperkuat pasokan energi jangka panjang. Bahlil menekankan bahwa percepatan eksekusi proyek, investasi teknologi, serta kemitraan antara pemerintah dan swasta harus berjalan simultan agar target produksi nasional bisa tercapai.
Bahlil juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas pengolahan dalam negeri sebagai bagian dari strategi kemandirian energi. Salah satu contoh konkret adalah beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada 12 Januari 2026.
Kilang tersebut kini mampu menghasilkan sekitar 5 juta kiloliter bensin dan 3,9 juta kiloliter solar per tahun. Produksi ini dinilai berdampak langsung pada neraca energi nasional.
“Dengan program B40 tahun ini kita tidak lagi impor solar. Ini pertama kalinya dalam sejarah peradaban bangsa kita,” kata Bahlil.
Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa strategi swasembada energi bukan sekadar visi politik, melainkan agenda teknis yang menuntut kecepatan eksekusi, inovasi teknologi, dan sinergi lintas sektor.












