Jakarta, ruangenergi.com – Republik ini sudah sejak lama punya mimpi luhur bernama swasembada energi. Mimpi yang setiap tahun diputar ulang di seminar, ditulis ulang di RPJMN, dan diumumkan ulang di media tiap kali BBM naik.
Swasembada energi artinya kita tidak lagi tergantung pada BBM impor, gas kiriman, dan kabel listrik tetangga.
Namun di tengah langit mimpi itu, kita justru mulai memikirkan sesuatu yang ukurannya jauh lebih mungil: modular refinery. Sebuah kilang kecil, imut, hemat biaya, dan katanya bisa dibangun lebih cepat dari keputusan reshuffle kabinet.
Lalu orang pun bertanya:
Apakah modular refinery ini kendaraan menuju swasembada energi?
Atau hanya becak kecil di tengah jalan tol kebijakan energi nasional?
Swasembada Energi: Cita-cita Besar, Tantangan Lebih Besar
Swasembada energi artinya: Semua kebutuhan BBM nasional bisa dipenuhi dari dalam negeri
Kilang cukup, pasokan cukup, cadangan strategis tersedia dan Rakyat tidak deg-degan saat harga minyak dunia naik, Pemerintah tidak perlu main subsidi, rem subsidi gas tiap kuartal.
Tapi kenyataan hari ini:
Sekitar 40–50% BBM masih impor, Kilang eksisting tua, Proyek baru lambat, Cadangan energi strategis minim, Produksi migas menurun, sedangkan konsumsi meningkat.
Lalu Muncullah Pemikiran Modular Refinery, hingga studi banding ke Angola, Negeri Afrika, karena dianggap sukses. Walau Kecil-kecil tapi banyak mengandung harapan untuk negeri Archipelago.
Modular refinery dapat menjanjikan:
– Kapasitas kilang skala kecil (10.000–30.000 BOPD)
– Waktu pembangunan cepat (1–2 tahun)
– Lokasi fleksibel (Papua, Maluku, perbatasan)
– Biaya lebih rendah dibanding kilang besar. Cocok untuk daerah-daerah yang selama ini hidup dalam logistik BBM yang mahal dan tidak pasti.
Tapi…
apakah modular refinery bisa mengantar Indonesia menuju swasembada energi nasional?
Apa Kelebihan Modular Refinery?
1. Bisa Jalan, Saat Proyek Besar Masih Rapat Rapat. Ketika GRR Tuban belum groundbreaking, modular refinery bisa langsung dibangun.
2. Cocok untuk Daerah Terpencil. Mengurangi biaya distribusi BBM di wilayah-wilayah ujung negeri.
3. Bisa Jadi Sumber Latihan & Teknologi Lokal
SDM lokal bisa dilibatkan dalam pembangunan dan pengoperasian kilang modular.
Jumlah Paten Siap Lisensi dan Peran Insinyur Kimia Nasional
Berdasarkan data global, terdapat lebih dari 200 paten modular refinery yang siap lisensi, dengan teknologi yang mencakup distilasi modular, hydrotreating skid, blending unit otomatis, dan sistem kontrol digital. Beberapa di antaranya bahkan sudah tersedia di platform kantor-kantor Kekayaan Intelektual untuk kerja sama internasional.
Di sinilah pentingnya peran insinyur kimia dalam negeri. Indonesia memiliki ribuan insinyur kimia lulusan perguruan tinggi teknik ternama (ITB, UGM, UI, ITS, dsb) yang sangat mampu melakukan:
- Rekayasa balik (reverse engineering) teknologi modular
- Penyusunan desain proses dan pemilihan katalis
- Pembangunan unit pilot skala laboratorium hingga semi-komersial
- Penyesuaian paten luar agar relevan dengan spesifikasi bahan baku domestik
Pemerintah perlu membentuk task force teknologi modular refinery nasional yang melibatkan asosiasi insinyur (Persatuan Insinyur Indonesia), universitas, BUMN EPC, dan lembaga riset seperti BRIN.
Modular Itu Bagus, Tapi Jangan Jadi Jalan Pintas ke Mimpi Besar
Tapi Jangan Tertipu Ukuran: Modular Bukanlah Solusi Final
- Produksi Terbatas Modular refinery hanya menyuplai sebagian kecil kebutuhan nasional. Swasembada butuh kilang besar.
- Produk Terbatas & Perlu Pemurnian Tambahan. Biasanya hanya menghasilkan naphtha, diesel ringan, dan residu. Tidak semua sesuai standar Euro IV/V.
- Jika Jadi Andalan Nasional, Maka Itu Salah Paham Strategis.
Modular refinery bukan pengganti kilang besar, tapi pelengkap. Seperti warung nasi uduk: cocok untuk sarapan, tapi jangan jadi sumber logistik negara.
Modular Itu Bagus, Tapi Jangan Jadi Jalan Pintas ke Mimpi Besar, Swasembada energi butuh:
– Kilang besar berkapasitas ekspor
– Cadangan strategis nasional
– Energi terbarukan yang stabil
– Transisi energi yang adil dan terencana
Modular refinery bisa membantu di level lokal—mengurangi ketimpangan distribusi BBM, mengurangi impor di wilayah tertentu, memberi pelatihan industri.
Tapi kalau kita meyakini bahwa dengan membangun modular refinery, swasembada energi bisa langsung tercapai, maka kita seperti berharap naik ojek sampai ke bulan.
Bangun Modular, Tapi Jangan Modularkan Mimpi
Bangunlah modular refinery dengan semangat keberdayaan, kecepatan, dan efisiensi. Tapi tetap lanjutkan pembangunan refinery besar, storage nasional, dan bursa energi.
Karena negara besar tak bisa hanya berdiri di atas kaki kecil—tapi di atas pondasi strategi energi jangka panjang yang tak bisa dibangun dari kontainer kilang saja.
Andy N Sommeng
- Dosen-GB UI, Pemerhati kebijakan Invensi Teknologi dan Energi, pernah menjabat sebagai Dirjen HKI, Kepala BPH Migas dan Dirjen Gatrik.
- Aktif dalam riset dan advokasi terkait Teknologi, Karya Cipta, Energi berkeadilan dan Ketahanan Energi Nasional.
Verba Volant Script Manent
#Lisan mudah menguap, Tulisan tinggal menetap#