Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Ketua Umum Purnomo Yusgiantoro Center (PYC), Filda C. Yusgiantoro, mengingatkan bahwa kebijakan yang “biasa-biasa saja” tidak lagi cukup untuk membentengi ketahanan energi tanah air.
Filda menegaskan, langkah pertama yang krusial adalah meninjau ulang kebijakan yang telah berjalan sepanjang 2025. Apakah kebijakan tersebut sudah cukup ampuh meredam guncangan global?
“Ketegangan geopolitik dan konflik global terbukti berdampak pada sektor energi. Untuk itu, kebijakan energi yang diterbitkan sepanjang 2025 perlu dievaluasi agar benar-benar mampu menjaga ketahanan energi nasional,” ujar Filda.
Tekanan eksternal yang kian tak terprediksi ini menjadi sorotan utama dalam acara Kaleidoskop Energi yang digelar di Jakarta, Jumat (16/1/2026).
Namun, Filda memberikan catatan tebal: masalah utama sektor energi Indonesia bukan pada kurangnya aturan, melainkan pada eksekusi di lapangan. Ia menyoroti fakta bahwa masih ada kelompok masyarakat yang belum menikmati akses energi secara optimal.
“Kebijakan harus aplikatif dan berorientasi dampak langsung, bukan sekadar dokumen regulatif,” tegasnya.
Desakan untuk mengevaluasi kebijakan ini bukan tanpa alasan. Memasuki 2026, dinamika global diprediksi makin memanas. Filda memproyeksikan geopolitik masih menjadi tantangan dominan.
Konflik di Iran, misalnya, dinilai berpotensi besar memengaruhi pasokan dan harga energi dunia yang ujungnya akan berdampak ke Indonesia. Sebaliknya, ketidakstabilan di Venezuela dinilai tidak memberikan pengaruh signifikan, mengingat kontribusi cadangan minyak negara tersebut hanya sekitar 1% dari total global.
Selain itu, ketegangan hubungan Amerika Serikat dan China juga masih perlu diantisipasi. Beruntung, Indonesia dinilai punya modal pengalaman. Pada 2025, Indonesia sempat terdampak kebijakan kenaikan tarif impor, namun berhasil meredam tekanan tersebut melalui negosiasi. Pengalaman ini menegaskan bahwa diplomasi ekonomi adalah instrumen strategis yang wajib dipertahankan.
Di luar faktor eksternal dan regulasi, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi penentu keberhasilan sektor energi ke depan. Filda menekankan bahwa agenda transisi energi menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060 sangat bergantung pada kesiapan manusia di dalamnya.
“Transisi energi tidak hanya berbicara soal teknologi dan infrastruktur. SDM adalah aktor utama yang menentukan apakah transformasi ini bisa berjalan efektif,” jelasnya.
Meskipun dikepung berbagai tantangan berat, Filda tetap menyampaikan optimisme terhadap kondisi dalam negeri. Saat ini, indeks ketahanan energi nasional berada di level 7 atau kategori “tahan”.
Capaian ini menunjukkan peningkatan dibandingkan dua tahun sebelumnya yang berada di angka 6,7, sekaligus menjadi modal kuat bagi Indonesia untuk menghadapi ketidakpastian global di tahun 2026.












