Tak Ingin Minas Redup: Cerita Perjuangan di Balik Racikan ‘Ajaib’ Penyelamat Energi Negeri

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Rumbai, Riau, ruangenergi.com-Raksasa migas legendaris Indonesia, Lapangan Minas, kini memiliki “nyawa” baru. PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) secara resmi mengoperasikan proyek Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) di Minas Area A, Zona Rokan, pada Selasa (23/12/2025).

Langkah strategis ini menandai babak baru bagi lapangan yang telah berproduksi sejak 1952 tersebut. Meski tergolong lapangan tua (mature field), Minas masih menyimpan harta karun besar di perut bumi yang kini akan disedot menggunakan teknologi canggih buatan anak bangsa.

Inovasi “Perwira” Pertamina Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, menjelaskan bahwa teknologi CEOR ini menggunakan formula khusus berupa injeksi tiga bahan kimia: alkali, surfaktan, dan polimer (ASP). Campuran ini berfungsi menyapu minyak yang terperangkap di pori-pori batuan reservoir.

Yang membanggakan, komponen utama berupa surfaktan merupakan hasil inovasi murni para “Perwira” Pertamina.

“Surfaktan ini hasil inovasi perwira Pertamina. Efektivitasnya telah lolos uji laboratorium dan lapangan, memastikan teknologi ini andal untuk skala komersial,” ungkap Oki.

Ia menambahkan, kesuksesan di Minas Area A ini menjadikan PHR sebagai pelopor teknologi CEOR komersial di Indonesia. Ke depan, teknologi ini akan diperluas ke Minas Area B, C, D, hingga lapangan Balam, Bangko, dan Petani.

Penerapan CEOR bukan sekadar eksperimen. PHR menargetkan peningkatan perolehan minyak sebesar 12% hingga 16% dari Original Oil in Place (OOIP).

Secara angka, dampaknya sangat masif. Proyek ini diproyeksikan menyumbang 70.000 barel minyak per hari (bph) pada tahun 2030, dan akan mencapai puncak produksi hingga 200.000 bph pada tahun 2036.

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyambut antusias peresmian ini. “Minas adalah salah satu aset terpenting dalam sejarah hulu migas Indonesia. Keberlanjutan produksinya hanya bisa dijaga lewat inovasi. Kita bersyukur Chemical EOR Tahap I di Area A ini resmi berjalan,” ujarnya.

Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, memberikan apresiasi tinggi atas kerja keras pekerja Pertamina yang berhasil memecahkan kendala teknis dan menciptakan formula sendiri. Menurut sosok yang akrab disapa Iwan Bule ini, proyek CEOR adalah manifestasi nyata dari Asta Cita dan upaya mengejar target 1 juta barel minyak di tahun 2030.

“Jangan berhenti berinovasi. Masa depan dan kemandirian energi berada di tangan pekerja Pertamina sebagai pahlawan energi kebanggaan kita semua,” pesan Iriawan.

Dari sisi pemerintah daerah, Plt Gubernur Riau, SF Haryanto, menegaskan dukungan penuhnya. Ia melihat keberhasilan CEOR bukan hanya soal teknis perminyakan, tetapi juga nafas panjang bagi Dana Bagi Hasil (DBH) Migas yang vital bagi pembangunan Riau.

“Keberhasilan ini adalah harapan bagi penopang ekonomi Riau. Dananya akan kembali ke rakyat dalam bentuk jalan, sekolah, dan fasilitas kesehatan. Kami siap menjadi mitra strategis untuk memastikan operasi berjalan aman,” tegas Haryanto.

Sebagai informasi, Lapangan Minas saat ini memiliki luas 204,37 km² dengan 1.243 sumur aktif. Sebelum teknologi CEOR diterapkan secara masif, rata-rata produksi harian lapangan penghasil Sumatra Light Crude ini berada di angka 29 ribu bph.