Jakarta, ruangenergi.com – PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) mencatatkan sejumlah pencapaian strategis sepanjang tahun 2025. Pencapaian itu tak hanya pada operasional tapi juga keberhasilan dalam inovasi di bidang energi hijau dan kontribusi sosial yang nyata.
Dalam bidang operasional, performa impresif salah satunya terlihat dari angka total bahan baku yang diproses, atau Total Intake KPI periode Januari hingga November 2025 lebih dari 300 juta barel. Pjs. Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani mengatakan, angka ini melampaui target yang ditetapkan, yakni hampir 290 juta barel, atau naik hampir 5%.
Dalam periode yang sama, KPI juga berhasil meningkatkan persentase hasil olahan kilang, dimana Total Yield mencapai 94% dari volume intake. Sementara itu, dalam indikator Yield Valuable, hingga November 2025, realisasi yang dicapai KPI hampir mencapai 84%, melampaui target di sekitar 83%. Menurut Milla, ini menandakan peningkatan jumlah output kilang dengan nilai jual tinggi. Dan di sisi efisiensi energi, KPI berhasil menurunkan Energy Intensity Index (EII) menjadi 106, lebih baik dari target 107. Semakin kecil angka EII, maka kinerja kilang semakin baik.
“Capaian ini menjadi bukti nyata komitmen KPI dalam mendukung ketahanan energi nasional melalui operasional yang efisien, berkelanjutan, dan berorientasi pada kualitas. Dengan kinerja yang terus meningkat, kilang Pertamina siap menghadapi tantangan industri energi global,” ujar Milla.
KPI turut mencatat kemajuan signifikan dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060. Hingga November 2025, program dekarbonisasi berhasil mengurangi emisi lebih dari 400 ribu ton CO2eq. Angka ini berada di atas target kumulatif 330 ribu ton CO2eq, atau mencapai 120%.
Langkah-langkah ini mencerminkan konsistensi KPI dalam menjalankan strategi pengurangan emisi berbasis efisiensi dan teknologi, khususnya dalam scope satu yang mencakup emisi langsung dari kilang. KPI menegaskan bahwa dekarbonisasi bukan sekadar proyek jangka pendek, melainkan bagian dari budaya kerja perusahaan.
“Ini merupakan bukti nyata bahwa transformasi energi yang dilakukan KPI berjalan dan terukur. Kami berkomitmen menjadikan dekarbonisasi sebagai budaya kerja, bukan hanya proyek jangka pendek,” ungkap Milla.
Selain operasional dan dekarbonisasi, tahun ini KPI juga meneguhkan posisinya sebagai perusahaan yang memberikan manfaat pada masyarakat melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Milla mengatakan, sejak 2018, KPI konsisten menjalankan program TJSL dengan berbagai pilar, seperti pendidikan, ekonomi, kesehatan, lingkungan, pemberdayaan masyarakat hingga tanggap bencana.
Program TJSL tersebut dilaksanakan oleh semua unit operasi dan menjangkau masyarakat di sekitar kilang. Beberapa program TJSL yang diinisiasi oleh KPI, seperti Bedelau Minapolitan, Belida Musi Lestari, Masyarakat Mandiri Kutawaru, Kaliandra dan Kasimle Mandiri telah mengubah hidup banyak orang. Dan dalam periode Januari hingga November 2025, jumlah penerima langsung dari seluruh program TJSL KPI lebih dari 7.800 orang.
“Kami ingin masyarakat di sekitar kilang ikut merasakan dampak positif hadirnya KPI, salah satunya melalui program TJSL. Ini merupakan wujud nyata keberpihakan kami pada masyarakat, sebab kami adalah bagian dari masyarakat itu sendiri yang tidak hanya fokus pada aspek bisnis, tapi juga mengedepankan aspek sosial,” tutur Milla.
Tahun 2025 menjadi tonggak penting bagi KPI dalam inovasi energi. Di awal tahun, KPI mulai memproduksi B40—campuran solar dengan 40% biodiesel di Kilang Plaju dan Kilang Kasim. Hingga September, produksi B40 telah melebihi 6 juta barel. Inisiatif ini mendukung agenda hilirisasi dan industrialisasi pemerintah serta mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
KPI juga mencetak sejarah dengan memproduksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbahan dasar minyak jelantah (Used Cooking Oil) di Kilang Cilacap. Pada Agustus 2025, SAF pertama kali digunakan dalam penerbangan komersial Pelita Air rute Jakarta–Denpasar.
Langkah besar lainnya adalah pengoperasian awal unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) di Kilang Balikpapan pada akhir 2025. RFCC merupakan bagian dari proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang memungkinkan produksi BBM berstandar setara Euro V dengan kadar sulfur sangat rendah. Selain RFCC, beberapa unit lain juga telah menyelesaikan sejumlah unit pendukung lain, diantaranya Revamp CDU IV, Preflash Column, Revamp HVU, Cooling Tower, Power Generation, Jetty dan lainnya.
Sebagai hasil dari modernisasi, Kilang Balikpapan berhasil meluncurkan UltraDex pada Desember 2025. Produk ini merupakan bahan bakar diesel berstandar Euro V dan termasuk dalam kategori Ultra Low Sulfur Diesel (ULSD), yang mendukung kendaraan ramah lingkungan dan menurunkan emisi karbon.
Deretan pencapaian tersebut lantas mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak, dari dalam dan luar negeri. Diantaranya, penghargaan Gold Rank dan Commendation for First Year Participation dalam ajang Asia Sustainability Reporting Rating (ASRRAT) 2025, penghargaan Green Apple Environment Awards kategori The International Gold 2025 dan dua penghargaan dari Asian Downstream Summit 2025, kategori Leader of The Year dan Sustainable Technology of the Year.
Menutup tahun 2025, KPI kembali menorehkan prestasi dengan meraih penghargaan dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), dalam ajang Apresiasi BPH Migas 2025. Setiap tahun lembaga ini secara regular memberikan penghargaan pada stakeholder yang berkontribusi dalam memajukan sektor hilir.
Dalam acara yang diselenggarakan di Jakarta pada Selasa (30/12), KPI memboyong dua penghargaan, yakni kategori Badan Usaha Dengan Volume Niaga BBM Terbesar dan Apresiasi Atas Kontribusi Basan Usaha Terhadap Penerimaan Negara Bidang BBM. Penghargaan diterima langsung oleh Direktur Utama KPI, Taufik Aditiyawarman dan Direktur Optimasi Feedstock dan Produk KPI, Erwin Suryadi.
Dalam kesempatan itu, Taufik mengatakan, penghargaan ini merupakan bukti pengakuan atas kinerja KPI selama ini. Dan menurutnya, keberhasilan ini tak terlepas dari jerih payah semua pihak. Tak hanya internal KPI, tapi juga yang ada di ekosistem Pertamina, termasuk dengan PT Pertamina Patra Niaga yang mengantarkan semua produk KPI ke masyarakat langsung.
Menghadapi 2026, lanjut Taufik, tantangan pengelolaan bisnis kilang akan semakin meningkat. Hal ini terkait dengan target peningkatan volume produksi untuk mengurangi impor, serta meningkatkan kualitas BBM yang lebih ramah lingkungan. Dalam konteks ini, RDMP Balikpapan diharapkan menjadi proyek kunci, dengan target peningkatan kapasitas produksi dari 260.000 menjadi 360.000 barel per hari.
Lebih dari itu, penguatan hilirisasi industri migas dengan memanfaatkan produk turunan kilang untuk mengembangkan sektor industri lain, juga bisa menjadi jawaban dari tantangan tersebut. Menurut Taufik, strategi ini dapat menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi hijau yang berkelanjutan.
“Hilirisasi tidak hanya akan menghidupkan industri dan melayani masyarakat secara langsung, tapi juga membesarkan industri itu sendiri melalui ekonomi hijau dan berkelanjutan, sebagaimana yang telah dicanangkan oleh pemerintah,” tutup Taufik.













