Total Football ala Djoksis di Arena LNG Global

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Di lapangan sepak bola, ada tim yang bermain menunggu bola, ada pula yang menguasai permainan dengan total football—semua bergerak, semua menyerang, semua mencari celah untuk mencetak gol spektakuler. Itulah gambaran yang pas untuk menjelaskan cara kerja Kepala SKK Migas Djoko Siswanto dalam mengejar pasar LNG dunia bagi proyek gas raksasa dari Lapangan Abadi Masela.

Di mata banyak pelaku industri energi, manuver Djoko Siswanto belakangan ini seperti permainan sebuah klub elite Eropa, —agresif, cepat, dan penuh tekanan. Bila di dunia sepak bola filosofi total football sering diasosiasikan dengan klub seperti Real Madrid yang mampu menciptakan gol spektakuler dari berbagai lini, maka di sektor energi Djoko memainkan strategi serupa untuk menembus pasar global LNG.

Djoksis—sapaan akrab pria alumni Institut Teknologi Bandung ini—tidak menunggu peluang datang. Ia membangun serangan dari berbagai sisi: diplomasi energi, negosiasi harga, hingga strategi pembiayaan proyek.

Targetnya satu: memastikan gas raksasa dari Masela tidak hanya diproduksi, tetapi juga menemukan pasar terbaik di dunia.

Di tengah tekanan pasar energi global, Djoko memilih turun langsung ke lapangan. Sabtu, 14 Maret 2026, ia memimpin pertemuan penting di Tokyo, Jepang—salah satu pusat konsumsi LNG terbesar dunia.

Pesannya tegas: negosiasi harus segera selesai.

“Kami telah memberi deadline kepada para pihak untuk sudah memutuskan kesepakatan harga paling telat bulan depan,” kata Djoko usai pertemuan, seperti dia ceritakan kepada ruangenergi.com, Sabtu (14/03/2026) pagi hari.

Langkah ini menandai pendekatan baru SKK Migas. Jika sebelumnya negosiasi LNG sering berjalan panjang dan kompleks, kini pemerintah ingin memastikan proyek Abadi Masela tidak lagi berjalan di tempat.

Perburuan pembeli LNG Masela berlangsung seperti turnamen panjang dengan babak penyisihan ketat.

Awalnya, 66 calon pembeli dari berbagai negara menyatakan minat. Proses seleksi kemudian menyusutkan jumlah itu menjadi 40, lalu 9 kandidat.

Negosiasi maraton digelar di kantor perusahaan energi global di Singapura—termasuk pertemuan intensif bersama bp dan Shell—sebelum berlanjut ke Tokyo.

Kini, hanya lima pemain besar yang tersisa di babak final: Osaka Gas. Kyushu Electric Power. Shell Trading. bp Trading. Chevron

Kelima perusahaan ini kini tengah membahas key terms bersama konsorsium penjual yang terdiri dari Inpex, Petronas, dan Pertamina. Pertarungan harga kini memasuki fase paling menentukan.

Para pembeli rata-rata menawarkan harga LNG di kisaran ±12% dari harga minyak Brent.
Sementara pihak penjual berupaya mempertahankan harga di atas asumsi Plan of Development (POD) demi menjaga keekonomian proyek dan penerimaan negara.

Kabar baiknya, perbedaan posisi kedua pihak kini hanya sekitar: ±0,2% × harga Brent. Artinya, kesepakatan tinggal selangkah lagi. Ada momen penting yang membuat negosiasi kali ini berbeda dari putaran sebelumnya.

Untuk pertama kalinya, Kepala SKK Migas turun langsung memimpin perundingan LNG internasional. Djoko memimpin tim Indonesia dalam negosiasi di Singapura bersama pimpinan Inpex, Pertamina, dan Presiden Direktur Petronas.

Bagi para calon pembeli, kehadiran langsung pimpinan regulator hulu migas Indonesia menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah benar-benar serius mendorong realisasi proyek Masela.

Dalam istilah sepak bola, Djoksis tidak hanya berdiri di pinggir lapangan memberi instruksi—ia ikut turun membantu membangun serangan.

Jika kesepakatan harga tercapai pada April, langkah berikutnya sudah disiapkan.

Momentum besar direncanakan terjadi pada ajang tahunan Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition pada Mei 2026.

Di forum tersebut, Head of Agreement (HOA) atau Gas Sales Agreement (GSA) yang bersifat binding ditargetkan akan ditandatangani di hadapan: Menteri ESDM dan Presiden Republik Indonesia.

Kesepakatan ini juga akan memperkuat kontrak pembelian domestik dengan: Perusahaan Listrik Negara. Perusahaan Gas Negara. Pupuk Indonesia

Setelah kontrak penjualan gas selesai, tantangan berikutnya adalah pembiayaan proyek raksasa ini. Target pemerintah jelas: Final Investment Decision (FID) pada Desember 2026.

Namun Djoko sudah menyiapkan strategi cadangan jika lembaga keuangan global terlalu lambat mengambil keputusan. Pemerintah membuka opsi pembiayaan melalui Danantara.

“Apabila pihak financial institution lambat mengambil keputusan, maka pihak Danantara dapat membiayainya, agar tidak ada lagi alasan untuk menunda-nunda proyek ini,” ujar Djoko.

Proyek Abadi Masela bukan sekadar proyek gas biasa. Dengan potensi produksi LNG yang sangat besar, proyek ini diproyeksikan menjadi salah satu pemasok LNG penting di Asia.

Karena itu, strategi Djoko Siswanto terasa seperti pertandingan besar di stadion global energi.

Semua lini bergerak: negosiasi harga, kontrak pasar, pembeli domestik, hingga pembiayaan proyek.

Dalam analogi sepak bola, Djoksis sedang memainkan total football—membangun serangan dari segala arah untuk mencetak satu gol besar: mengamankan pasar LNG dunia bagi gas Masela dan memastikan proyek raksasa ini akhirnya benar-benar berjalan.

Jika semuanya berjalan sesuai rencana, Desember 2026 bisa menjadi momen ketika Indonesia akhirnya menendang bola itu ke gawang dunia—sebuah gol spektakuler dari Laut Arafura ke panggung energi global.