Wow! Februari Ini Transformasi Besar Pertamina: Merger Tiga Raksasa Hilir Menuju Subholding Downstream

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Gelombang transformasi besar di tubuh PT Pertamina (Persero) memasuki babak penentuan. Memasuki Februari 2026, kabar mengenai pengumuman resmi merger tiga anak usaha raksasa di lini hilir migas semakin menguat. Bahkan, dikabarkan akan diwujudkan pada medio Februari ini.

Langkah strategis ini menjadi realisasi dari target besar yang dicanangkan oleh Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri.

Sebelumnya, Simon menegaskan bahwa integrasi antara PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PIS) ditargetkan rampung pada 1 Januari 2026. Saat ini, proses tersebut telah memasuki tahap finalisasi sebelum diajukan kepada Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.

“Sekarang kita sedang tahap finalisasi, nanti kita akan laporkan ke Danantara untuk mendapatkan persetujuannya. Kita sih kejarnya mudah-mudahan per 1 Januari 2026 sudah terlaksana,” ujar Simon saat ditemui di kantor Kementerian ESDM beberapa waktu lalu.

Penggabungan ini bukan sekadar pergantian nama, melainkan pembentukan Subholding Downstream yang akan menyatukan seluruh rantai nilai energi—mulai dari pengolahan di kilang (refining), pengangkutan laut (shipping), hingga penjualan di SPBU (commercial & trading)—dalam satu komando terpadu.

Merger ini juga akan menerapkan strategi efisiensi radikal. Ruangenergi.com mendapatkan informasi, struktur organisasi dikabarkan akan dipangkas hingga hanya menyisakan sekitar 30 persen dari total struktur saat ini. Birokrasi yang gemuk akan digantikan oleh organisasi yang jauh lebih ramping, gesit, dan responsif.

Jika sebelumnya terdapat sekitar 24 posisi direktur dari tiga perusahaan, struktur baru diprediksi hanya akan memiliki 7–8 kursi direksi. Beberapa posisi kunci yang akan menggerakkan subholding ini antara lain:

  • Direktur Operasi & Produksi
    Menyatukan kendali kilang dan distribusi lapangan.

  • Direktur Logistik & Armada
    Mengintegrasikan kapal tanker dengan infrastruktur terminal darat.

  • Direktur Niaga & Pemasaran
    Fokus pada penetrasi pasar domestik dan global.

  • Direktur Strategi & Pengembangan Bisnis
    Memastikan pembangunan kilang, pelabuhan, dan infrastruktur dilakukan secara terpadu.

Di level manajemen menengah (SVP/VP), perubahan akan terasa sangat revolusioner. Struktur tidak lagi berbasis “perusahaan asal”, melainkan berbasis alur proses bisnis.

Melalui Divisi Supply Chain Management (SCM) Terpadu, tidak akan ada lagi sekat antara pengadaan minyak mentah, pengangkutan, hingga penjualan.

Di lapangan, jabatan pimpinan wilayah akan dilebur menjadi Regional Integrated Manager. Tidak ada lagi pemisahan antara manajer kilang dan manajer pemasaran di satu wilayah—satu pemimpin akan bertanggung jawab atas seluruh rantai operasi hilir di area tersebut.

Dengan skema “The 30% Strategy”, Pertamina diproyeksikan mampu memangkas biaya overhead secara signifikan—mulai dari pengurangan jabatan manajerial hingga efisiensi fasilitas kantor.

Hambatan koordinasi yang selama ini muncul akibat kontrak antar-anak usaha akan hilang. Sebagai gantinya, koordinasi akan berjalan real-time, sehingga keputusan bisa diambil jauh lebih cepat.

Analogi struktur baru:
Jika sebelumnya ketiga perusahaan ini bekerja layaknya tiga departemen yang harus saling berkirim surat resmi, maka pasca-merger mereka akan bekerja seperti satu tubuh manusia—mata (perencanaan), tangan (kilang dan shipping), dan mulut (pemasaran) digerakkan oleh satu otak yang sama.