Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi,com-Energi kini tak lagi sekadar urusan ekonomi. Di tengah dinamika global, minyak dan gas telah bertransformasi menjadi senjata geopolitik yang menentukan peta kekuatan dunia. Harga minyak global hari ini bukan hanya soal pasokan dan permintaan, melainkan juga soal politik, sanksi, jalur keuangan, pengiriman, hingga sistem pembayaran internasional.
Siapa yang menguasai rantai tersebut, dialah yang memegang kendali energi dunia. Realitas ini kian nyata setelah mencuatnya kesepakatan minyak antara Amerika Serikat dan Venezuela. Kesepakatan itu dinilai menjadi penanda perubahan besar dalam tata kelola energi global.
Ancaman utamanya bukan semata tambahan volume pasokan, melainkan siapa yang mengontrol akses pasar, asuransi pengapalan, dan mekanisme pembayaran—faktor-faktor yang pada akhirnya menentukan harga energi yang harus dibayar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dalam konteks geopolitik yang kian kompleks tersebut, langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dinilai semakin relevan. Program untuk menekan ketergantungan impor dan menggenjot lifting migas nasional dianggap sebagai strategi jangka panjang yang tepat sasaran.
Program yang didukung penuh oleh Wakil Menteri ESDM, Kepala SKK Migas, Direktur Jenderal Migas, hingga Ketua Satgas Lifting itu bahkan disebut “membaca arah masa depan dunia”. Sejak awal, kebijakan ini menempatkan kemandirian energi sebagai prioritas strategis nasional, bukan sekadar target teknis sektoral.
Tenaga Ahli Menteri ESDM, Muhammad Iksan Kiat, menegaskan bahwa pesan global bagi Indonesia sudah sangat jelas. Menurutnya, Indonesia tidak boleh lengah dan harus tetap fokus pada penguatan fondasi energi domestik.
“Indonesia harus menggenjot produksi dalam negeri, mempercepat investasi strategis, memastikan energi terjangkau bagi masyarakat, sekaligus mendiversifikasi sumber pasokan minyak mentah,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya memperluas cadangan strategis nasional serta memperkuat kerja sama logistik, asuransi, dan sistem pembayaran energi dengan negara-negara ASEAN dan BRICS, sebagai penyeimbang dominasi sistem energi global yang ada saat ini.
Di tengah tekanan geopolitik dan ketidakpastian pasar global, Menteri Bahlil disebut konsisten mengarahkan seluruh jajarannya menjalankan strategi “Stop Impor, Cari Cara, Kejar Lifting.” Strategi ini bukan hanya soal angka produksi, tetapi tentang kedaulatan, ketahanan, dan daya tawar Indonesia di panggung global.
Kini, tantangan terbesar Indonesia bukan lagi pada arah kebijakan, melainkan pada eksekusi yang konsisten dan berkelanjutan. Jika langkah-langkah strategis tersebut mampu direalisasikan secara bertahap, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk keluar dari jebakan ketergantungan energi impor dan memperkuat posisinya di tengah percaturan geopolitik dunia.












