Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com— PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) merayakan usia satu dekade dengan catatan kinerja gemilang. Di tengah tantangan lapangan migas tua di Kalimantan, Subholding Upstream Pertamina ini justru berhasil melampaui target produksi dan lifting migas tahun 2025, sekaligus menjaga standar keselamatan kerja kelas dunia.
Capaian tersebut diumumkan dalam Townhall Meeting (THM) Direktur Utama PHI yang digelar di Jakarta, Kamis (22/1/2026). Acara yang mengusung tema “10 Years Strong for Indonesia” itu diikuti ribuan pekerja PHI-Regional 3 Kalimantan secara hybrid dari Jakarta, Balikpapan, hingga wilayah operasi di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Selatan.
Direktur Utama PHI Sunaryanto atau akrab disapa Anto menegaskan bahwa keberhasilan ini tidak menggeser satu prinsip utama: keselamatan adalah segalanya.
“Tidak ada target produksi yang lebih penting dari keselamatan. Tahun 2026, keselamatan harus tetap menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas kerja,” tegas Anto.
Dari sisi Health, Safety, Security and Environment (HSSE), PHI mencatatkan 41,8 juta jam kerja selamat, dengan No Accident (NoA) 0 dan TRIR 0,12.
Di aspek lingkungan, PHI juga memborong 7 kandidat PROPER Hijau dan 4 PROPER Biru pada 2025.
Tak hanya aman, operasi juga semakin efektif. Produksi dan lifting minyak serta gas tercatat melampaui target RKAP, mencerminkan kuatnya kolaborasi lintas fungsi di seluruh wilayah kerja.
Pada sektor eksplorasi, PHI menorehkan capaian 100 persen target melalui pengeboran sumur SBKD-001, MDP-1X, dan SS-123. Seluruhnya mencatatkan discovery, yang kemudian mendorong peningkatan cadangan 1P dan 2C di atas target.
Jumlah pengeboran sumur pengembangan, workover, dan well service pun melampaui rencana, memperkuat ketahanan produksi dari lapangan-lapangan mature di Kalimantan.
Komisaris Utama PHI Meidawati menyebut satu dekade PHI sebagai perjalanan panjang yang sarat kerja keras dan kolaborasi.
“Ini bukan perjalanan yang singkat. Semua capaian ini adalah hasil dari komunikasi dan kerja sama yang baik seluruh pihak,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi capaian produksi migas yang melampaui target RKAP serta mengingatkan pentingnya menjaga keandalan aset dan pengamanan area operasi.
“Budaya keselamatan harus benar-benar dipahami dan dijalankan, dari pimpinan tertinggi hingga frontliner di lapangan,” tegas Meidawati.
Anto menambahkan, keberhasilan menjaga produksi di lapangan tua bukan perkara mudah. Namun berkat kedisiplinan dan semangat kolektif seluruh Perwira PHI, pasokan energi dari Kalimantan tetap terjaga.
“Ini bukan hasil kerja satu orang, tetapi kerja kolektif seluruh elemen organisasi,” katanya.
Memasuki 2026, PHI menegaskan komitmen pada keselamatan, investasi yang menguntungkan, dan tata kelola yang kuat, sejalan dengan semangat “10 Years Stronger” untuk terus menopang ketahanan energi nasional.

