Batam, Kepri, ruangenergi.com— Setelah menempuh proses panjang hampir satu dekade, proyek strategis pipa gas West Natuna Transportation System (WNTS) menuju Pulau Pemping, Kota Batam, Kepulauan Riau akhirnya resmi memasuki tahap konstruksi. Groundbreaking proyek ini menjadi penanda penting pergeseran arah pemanfaatan gas nasional menuju kebutuhan domestik.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyebut realisasi proyek ini sebagai langkah konkret penguatan ketahanan energi nasional. Ia menegaskan, pipa gas tersebut akan menyalurkan pasokan sebesar 111 BBTUD yang seluruhnya dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri, khususnya PT PLN.
Gas yang dialirkan melalui pipa ini berasal dari lapangan-lapangan Natuna yang dikelola sejumlah operator, termasuk Medco, Harbour, dan Star Energy. Selama ini, sebagian gas Natuna dialirkan langsung ke Singapura. Namun melalui proyek WNTS–Pemping, gas tersebut akan diprioritaskan untuk kebutuhan Batam dan Sumatera.
Djoko optimistis aliran gas bisa mulai terealisasi dalam waktu dekat. “Gas akan langsung mengalir ke sini. Insya Allah pada bulan Juli nanti, dan ini semakin mendekatkan kita pada target pemanfaatan gas untuk kepentingan dalam negeri,” katanya.
Direktur Utama PLN Energi Primer Indonesia (EPI), Rakhmad Dewanto, menyebut proyek ini memiliki nilai investasi sekitar Rp1 triliun. Konstruksi dimulai Februari 2026 dan ditargetkan selesai pada Juni, sehingga gas bisa mulai masuk Batam pada Juli 2026.
Menurut Rakhmad, proyek ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur energi, tetapi juga tonggak penting dalam menjaga keandalan listrik Batam dan Sumatera.
“Ini menjadi awal bersejarah dimulainya konstruksi pipa gas WNTS. Gas yang lebih dekat, stabil, dan berkelanjutan akan meningkatkan efisiensi pembangkitan. Ini menjadi faktor penting dalam menjaga tarif listrik tetap kompetitif bagi industri,” ujarnya.
Keberadaan pipa ini diproyeksikan menjadi instrumen strategis untuk menekan biaya pokok penyediaan (BPP) listrik. Selama ini, Batam menghadapi keterbatasan pasokan gas domestik dan biaya logistik yang lebih tinggi.
Dengan kapasitas awal sekitar 33 MMscfd yang akan meningkat hingga 111 BBTUD, seluruh volume gas dialokasikan untuk pasar domestik. Kepastian pasokan ini dinilai krusial dalam menjaga stabilitas biaya energi, faktor utama dalam keputusan investasi industri.
PLN EPI menilai pembangkit listrik berbasis gas masih menjadi pilihan paling ekonomis bagi Batam saat ini. Keterbatasan potensi energi air dan gelombang laut, serta kebutuhan investasi besar untuk energi baru terbarukan skala industri, membuat gas menjadi solusi transisi paling realistis.
Dengan dimulainya konstruksi WNTS–Pemping, pemerintah berharap Batam tidak hanya memperoleh pasokan energi yang lebih stabil, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai kawasan industri strategis nasional.













