Cepu, Jawa Timur, ruangenergi.com-Di balik helm proyek dan seragam coverall yang lusuh oleh debu lapangan, jabatan tinggi seolah tak lagi berjarak. Bukan di ruang rapat berpendingin udara atau restoran mewah, dua sosok penting industri hulu migas Indonesia itu tampak duduk terkulai di bawah tenda terpal biru sederhana.
Di meja lipat di hadapan mereka, tak ada sajian gourmet. Hanya deretan botol air mineral, biskuit kaleng, kotak nasi, dan sepotong abon gulung yang menjadi pengganjal perut.
Foto yang beredar Senin pagi itu menceritakan ribuan kata tentang dedikasi. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, tampak menunduk, sementara di seberangnya, Presiden Direktur ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Wade Floyd, tertangkap kamera sedang memijat kening—gestur lelah yang tak bisa disembunyikan.
Keduanya tengah berada di “garis depan”, mengawal langsung penanganan kebocoran pipa yang krusial.
Pantang Pulang Sebelum Tuntas
Djoko Siswanto, sosok senior di industri ini, menegaskan satu komitmen keras: ia tak akan meninggalkan lokasi sebelum perbaikan pipa selesai. Sikap “keras kepala” demi tanggung jawab ini rupanya disambut setara oleh Wade Floyd. Pria ekspatriat itu memilih setia menemani, memastikan setiap instruksi teknis berjalan presisi.
Dalam laporannya yang menyentuh hati, Djoko tak segan memuji mitra kerjanya itu.
“Saya yakin dia 48 jam tidak tidur. Saya 24 jam saja meleknya,” ungkap Djoko dengan nada guyon, namun sarat akan rasa hormat, bercerita kepada ruangenergi.com, Selasa (16/12/2025).
Seni Menahan Emosi dan Beda Usia
Momen di bawah tenda itu bukan sekadar soal menahan kantuk. Djoko merekam sisi humanis Wade yang penuh kesabaran. Di tengah situasi krisis yang menegangkan, di mana tekanan meninggi, Wade memilih untuk tenang.
Ia menunggu momentum yang tepat untuk memberikan instruksi, menghindari ledakan amarah atau “ngamuk-ngamuk” yang justru bisa merusak konsentrasi tim di lapangan. Sebuah kepemimpinan sunyi yang diapresiasi tinggi oleh Djoko.
Interaksi keduanya pun menjadi simbol alih generasi yang harmonis. Djoko, yang kini memasuki usia kepala enam, bersanding dengan Wade yang masih berada di kepala tiga.
“Maklum beda usia, dia kepala 3 saya kepala 6. Beda usia hampir 30 tahun, kan,” kelakar Djoko.
Namun, di bawah tenda biru itu, perbedaan usia dan kewarganegaraan lebur. Yang tersisa hanyalah dua manusia yang sama-sama kelelahan, sama-sama berjuang melawan batas fisik, demi satu tujuan: memastikan energi negeri kembali mengalir lancar.
Pemandangan ini menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka lifting minyak dan target negara, ada keringat, mata yang terjaga, dan dedikasi sunyi para pekerjanya—dari teknisi hingga pimpinan tertingginya.













