Sejarah Baru Energi Nasional: NuEnergy dan Mitra Beijing Sepakat Kebut Proyek CBM Tanjung Enim di Depan Kepala SKK Migas

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Babak baru industri energi non-konvensional Indonesia resmi dimulai hari ini. NuEnergy Gas Limited (ASX: NGY), perusahaan energi bersih yang melantai di bursa Australia, resmi menggandeng mitra strategis asal Tiongkok, PT Beijing Energy Linking (PT BEL), untuk mempercepat pengembangan proyek Gas Metana Batubara (CBM) di Sumatera Selatan.

Upacara penandatanganan perjanjian kolaborasi yang digelar di JS Luwangsa Hotel, Jakarta, pada Kamis (8/1/2026) ini berlangsung istimewa seperti dilaporkan Lintang, koresponden ruangenergi.com. Acara tersebut disaksikan langsung oleh Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, yang hadir menjadi saksi tonggak sejarah baru ketahanan energi nasional ini.

Langkah strategis ini dinilai sebagai “angin segar” bagi iklim investasi hulu migas, khususnya dalam pemanfaatan gas non-konvensional yang selama ini digadang-gadang sebagai energi masa depan Indonesia.

Kerja sama ini bukan kaleng-kaleng. NuEnergy menggandeng PT BEL, yang merupakan anak usaha dari Shanghai Beijing Energy Linking New Energy Development Co Ltd (SBJE). Perusahaan ini disokong oleh raksasa energi Beijing Energy International Holding Co. Ltd (BJEI) dan Envision Group sebagai pemegang saham utamanya.

CEO NuEnergy, Lim Beng Hong, dalam keterangannya menyebutkan bahwa kolaborasi ini menandai kemajuan signifikan bagi pengembangan industri CBM di tanah air.

“Kolaborasi ini menandai kemajuan signifikan bagi pengembangan industri Gas Metana Batubara di Indonesia dan menambah iklim investasi operasional CBM di Indonesia,” ungkap manajemen NuEnergy dalam surat undangannya.

Fokus utama dari kemitraan ini adalah akselerasi pengembangan Wilayah Kerja (WK) atau PSC Tanjung Enim. Aset ini sangat spesial karena merupakan proyek CBM pertama di Indonesia yang rencana pengembangannya (Plan of Development/POD 1) telah disetujui pemerintah.

Momentum penandatanganan hari ini merupakan tindak lanjut cepat dari kesepakatan sebelumnya. Pada 17 Desember 2025 lalu, anak usaha NuEnergy, Dart Energy (Tanjung Enim), telah lebih dulu menandatangani Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dengan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN).

Proyek ini diproyeksikan memiliki nilai kontrak awal yang fantastis, yakni mencapai USD 200 juta atau setara triliunan rupiah.

Kehadiran Kepala SKK Migas Djoko Siswanto dalam acara ini menegaskan dukungan penuh pemerintah terhadap pemanfaatan CBM sebagai tulang punggung transisi energi. Gas Metana Batubara dinilai sebagai sumber energi bersih yang krusial untuk mengejar target Net Zero Emission sekaligus memenuhi kebutuhan energi domestik yang terus melonjak.

Secara teknis, PSC Tanjung Enim memiliki cadangan gas yang siap dikomersialkan. NuEnergy menargetkan produksi gas (plateau production) hingga 25 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) selama 10 tahun. Untuk tahap awal, penjualan gas perdana sebesar 1 MMSCFD ditargetkan mulai mengalir pada paruh pertama tahun 2026 ini.

Gas dari Tanjung Enim ini nantinya akan dialirkan melalui pipa-pipa yang terintegrasi dengan jaringan infrastruktur gas utama di Sumatera Selatan, yang mampu menjangkau pasar Jawa hingga ekspor ke Singapura dan Malaysia.

Dengan masuknya investasi baru dan dukungan penuh regulator melalui SKK Migas, “harta karun” gas metana di perut bumi Sriwijaya ini diharapkan segera menjadi motor penggerak ekonomi baru yang nyata bagi Indonesia.