Menaruh Asa Pada KSO Pertamina, SKK Migas Optimis Dapat Tambah Produksi

Jakarta, ruangenergi.com- Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengatakan berbagai upaya peningkatan produksi melalui peningkatan investasi telah dilakukan oleh satuan kerja ini, khususnya oleh KSO (kerja sama operasi),

Bahkan ketentuan T&C (term and condition) yang baru untuk KSO juga sudah disetujui sehingga KSO menjadi lebih menarik dari sisi keekonomiannya.

“Setahu saya beberapa KSO sudah menggunakan T&C baru dan sebagian dalam proses mengajukan ke Pertamina. Harapannya dengan hal tersebut produksi dan kegiatan investasi di KSO dapat meningkat, ” kata Deputi Eksploitasi SKK  Migas Wahju Wibowo dalam bincang santai virtual bersama ruangenergi.com, Selasa (13/02/2024), di Jakarta.

Mengutip website Pertamina, dijelaskan guna mendorong optimalisasi produksi KSO lebih baik lagi, PEP menerapkan perubahan persyaratan pada perjanjian KSO kepada 3 KSO yang beroperasi di wilayah Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi, yaitu KSO Tangai Sukananti, KSO Meruap dan KSO Kruh. Saat ini ketiga KSO tersebut menghasilkan akumulasi produksi minyak bumi sebesar 1.504 BOPD.

Dalam amandemen tersebut, Mitra KSO menyetujui komitmen untuk melakukan investasi yang lebih massive, dengan melakukan penambahan 10 kegiatan workover, 4 sumur pemboran, implementasi program Enhance Oil Recovery (EOR) dan akuisisi seismic 2D/3D termasuk upgrading fasilitas operasi penunjang.

Wisnu Hindadari selaku Direktur Utama PT Pertamina EP berharap, melalui aktivitas investasi yang dilakukan oleh ketiga Mitra KSO, produksi dapat tumbuh hingga 50% secara bertahap pada 3-5 tahun mendatang.

“Peningkatan ini sekaligus menambah gross revenue yang berdampak positif bagi Pemerintah Indonesia maupun PT Pertamina EP sebagai pemegang Kontrak Kerja Sama,” ungkap Wisnu saat Signing Ceremony yang digelar, Rabu (09/08/2023), di Jakarta.

Deputi Eksplorasi, Pengembangan dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Benny Lubiantara yang hadir menyaksikan penandatanganan menyampaikan, perubahan perjanjian KSO ini merupakan bentuk dukungan pemerintah untuk meningkatkan produksi dan cadangan migas nasional.

“Tambahan investasi untuk peningkatan produksi di lapangan migas memerlukan terms & conditions baru yang memadai untuk mencapai minimum economic threshold. Di era transisi energi, Pemerintah terus mendorong untuk mengoptimalkan potensi hulu migas untuk menjamin keamanan pasokan migas, sehingga Pemerintah terbuka untuk mendiskusikan perubahan yang diperlukan agar lapangan migas dapat dikembangkan secara ekonomis,” kata Benny.

Benny menambahkan sebagai langkah awal sudah ada kesepakatan penambahan program kerja dalam bentuk Komitmen Pasti maupun komitmen kerja biasa, dan tentunya ini akan menuju kepada peningkatan produksi migas PT Pertamina EP khususnya dan produksi migas nasional secara umum untuk mendukung pencapaian target 2030 yaitu produksi minyak 1 juta barel per hari (BOPD) dan gas 12 miliar kaki kubik per hari (BSCFD).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *