IPA 50 Tahun: Dari Ladang Migas ke Bebek Madura, Kenneth Gunawan Bicara ESG yang Membumi

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com – Selama puluhan tahun, industri hulu migas identik dengan satu kata kunci: produksi. Produksi minyak, produksi gas, target lifting. Namun di usia emas 50 tahun Indonesian Petroleum Association (IPA), narasi itu mulai bergeser.

Hal itulah yang ditegaskan Kenneth Gunawan, Chairperson of IPA Supply Chain, saat menjawab pertanyaan ruangenergi.com dalam sebuah diskusi di sebuah resto di Jakarta Selatan, 27 Januari 2026 lalu.

Kennet mengajak audiens, yang rata-rata pewarta sektor migas dan energi, untuk melihat sisi lain industri migas—yang jarang disorot, tapi dampaknya nyata: lingkungan sosial dan ekonomi di sekitar wilayah operasi.

“Kita ini selama ini selalu bicara produksi. Tapi industri migas itu beroperasi di daerah-daerah terpencil, remote area, dengan tantangan ekonomi yang nyata,” ujar Kenneth yang hari itu bicara dengan lugas dan tegas.

Menurut pria yang juga dosen di sebuah universitas ternama, dia mengatakan suka atau tidak suka, migas selalu hadir di wilayah yang aksesnya terbatas, ekonominya tertinggal, dan masyarakatnya belum sepenuhnya terhubung dengan rantai ekonomi nasional. Di sisi lain, migas dikenal sebagai industri berteknologi tinggi, berbiaya mahal, dan berisiko besar.

“Pertanyaannya, selama 50 tahun IPA, apa yang sudah kita bangun bersama masyarakat dan pelaku lokal?” kata Kenneth.

Kenneth, yang mengklaim saat ini berusia memasuki 50 tahun, menegaskan bahwa diskusi ini tak lepas dari isu ESG (Environmental, Social, Governance). Ia menyebut, Indonesia sudah sepakat bahwa pembangunan ekonomi ke depan harus berkelanjutan.

“Bagi kami di supply chain, ESG itu bukan teori. Ini soal praktik sehari-hari—bagaimana rantai pasok bisa menciptakan dampak jangka panjang,” jelasnya.

Ia pun membagikan contoh konkret. Salah satunya datang dari Madura, daerah yang justru terkenal dengan fakta unik: harga bebek di sana lebih murah dibanding ayam.

“Bebek goreng mahal di mana-mana, tapi di Madura justru sebaliknya. Ini potensi lokal,” ujarnya sambil tersenyum.

Bersama SKK Migas dan para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) anggota IPA di Jawa Timur, supply chain migas tak sekadar membeli produk. Mereka melatih masyarakat, membangun sistem manajemen, hingga menciptakan model bisnis berbasis franchise.

Konsepnya sederhana tapi visioner: produk bebek diolah setengah matang, dikirim ke mitra franchise di berbagai daerah, sehingga masyarakat lokal tak perlu mengelola dapur rumit. Hasilnya, usaha tak berhenti di jualan kecil-kecilan, tapi berkembang secara berkelanjutan.

“Kalau cuma kita suruh dagang lima juta, mau sampai kapan?” tegas Kenneth.

Contoh lain datang dari industri manufaktur lokal. Kenneth menolak menyebut pendekatan ini sebagai CSR.

“Ini bukan CSR. Ini saling membutuhkan,” katanya dengan senyum lebar.

Kenneth bercerita, IPA dan para pemasok migas berkolaborasi dengan pabrikan lokal furnitur dan peralatan industri. Mesin-mesin produksi bahkan ditempatkan di SMK dan madrasah, lengkap dengan pelatihan bagi guru.

Tujuannya jelas: menutup kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja.

“Hasilnya? Begitu lulus, mereka langsung diserap industri. Pabrikan dapat tenaga kerja siap pakai, sekolah dapat relevansi,” ungkap Kenneth.

Kenneth juga menyoroti perubahan besar dalam kandungan lokal industri migas. Platform migas yang dulu nyaris sepenuhnya impor, kini lebih dari 70 persen komponennya dibuat lokal, bahkan baja mencapai 90 persen lokal.

Hal yang sama terjadi pada pipa migas berteknologi tinggi—yang harus tahan suhu ratusan derajat dan tekanan ribuan psi. Semua itu dicapai lewat asesmen, pendampingan, dan kolaborasi antara BUMN, SKK Migas, dan pelaku industri.

“Kita jangan cuma bilang pabrikan lokal belum siap. Pertanyaannya, apa yang kita lakukan supaya mereka siap?” tegasnya.

Menutup paparannya, Kenneth mengibaratkan industri migas seperti kebiasaan belanja sehari-hari.

“Buktinya sekarang minimarket ada di mana-mana. Orang lebih nyaman beli dekat. Sama juga dengan migas—kalau ada pabrikan lokal yang siap, kenapa harus impor dan nunggu lama?” katanya.

Di usia 50 tahun IPA, pesan Kenneth jelas: industri migas bukan hanya soal lifting, tapi soal warisan kapasitas nasional. Dari ladang migas hingga warung bebek Madura, dari pipa bertekanan tinggi hingga bangku SMK—ESG menjadi nyata ketika rantai pasok menyatu dengan kehidupan masyarakat. Lifting Bisa…Bisa!