Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com– Kabar gembira yang ditunggu-tunggu para pemburu energi akhirnya tiba! Pemerintah Indonesia, melalui tangan dingin para ahli di Badan Geologi Kementerian ESDM, baru saja menuntaskan “bedah tuntas” terhadap tujuh area migas potensial di penghujung Desember 2025 lalu.
Hasil studi detail ini bukan sekadar tumpukan data, melainkan peta jalan menuju cadangan energi masa depan yang menggiurkan. Ketujuh blok ini—Puri, Rupat, South Matindok, Karapan Baru, Bengara II, Lao Lao, dan Pesut Mahakam—siap menjadi primadona dalam ajang lelang wilayah kerja migas yang akan digelar pada 2026 ini.
Lantas, apa yang membuat ketujuh “gadis cantik” ini begitu istimewa hingga layak diperebutkan investor kelas kakap? Mari kita bedah keistimewaannya. Ruangenergi.com membaca bahan paparan per blok tersebut, seperti ini isinya:
Sumatera: Pesona di Lahan Matang
Di wilayah barat, blok Rupat dan Puri menawarkan kepastian di tengah ketidakpastian. Berada di cekungan Sumatera yang legendaris (Central dan South Sumatra Basin), kedua blok ini dikelilingi oleh ladang-ladang minyak “raksasa” yang sudah terbukti produktif selama puluhan tahun.
Keistimewaan utamanya? Infrastruktur yang sudah “matang”. Investor tidak perlu pusing memikirkan akses jalan atau jalur pipa dari nol. Ini adalah tiket fast-track menuju produksi, dengan risiko geologi yang relatif lebih terukur di area yang sudah terbukti kaya minyak.
Jawa & Kalimantan: Sang Legenda dan Pasar Raksasa
Bergeser ke tengah, persaingan semakin panas. Blok Karapan Baru di Jawa Timur memiliki daya tarik tak terbantahkan: Pasar yang “gemuk”. Berada dekat dengan pusat industri di Pulau Jawa, gas yang dihasilkan dari sini akan langsung diserap oleh pasar yang haus energi. Jaminan pembeli sudah di depan mata.
Sementara itu, Kalimantan menawarkan dua jagoan: Pesut Mahakam dan Bengara II. Nama “Mahakam” sendiri sudah menjadi jaminan mutu di dunia migas global sebagai salah satu produsen gas terbesar. Pesut Mahakam adalah kesempatan emas untuk mencicipi sisa kejayaan delta Mahakam yang masih menyimpan potensi besar. Bengara II di utara Kalimantan juga tak kalah seksi, menjanjikan potensi minyak di area yang memang sudah dikenal sebagai lumbung “emas hitam”.
Sulawesi: Menatap Masa Depan Gas
Di timur Indonesia, South Matindok dan Lao Lao adalah jawaban bagi masa depan energi bersih. South Matindok di Sulawesi Tengah memiliki posisi strategis sebagai hub gas masa depan, berpotensi mendukung pengembangan industri LNG di wilayah tersebut.
Sedangkan Lao Lao di Teluk Bone menawarkan tantangan sekaligus peluang frontier yang menarik. Meski risikonya lebih tinggi, penemuan di area baru seperti ini seringkali berujung pada cadangan “gajah” yang mengubah peta energi nasional.
Dalam catatan ruangenergi.com, Badan Geologi menegaskan bahwa studi detail yang rampung Desember 2025 ini memberikan data geologi, geofisika, dan reservoir yang jauh lebih komprehensif. Ini memberikan tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi bagi para calon investor untuk menanamkan modalnya di 2026.
Bagi para pemain migas dunia, tahun 2026 adalah waktunya tancap gas. Tujuh blok dengan karakteristik unik ini sudah tersaji di atas meja. Siapa cepat dan berani, dia yang akan mendapatkan “harta karun” di perut bumi Nusantara.












