Gerakan Hijau Hulu Migas: 1,74 Juta Pohon Ditanam Sepanjang 2025, Serap Ratusan Ribu Ton Emisi Karbon

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Surabaya, Jawa Timur, ruangenergi.com-Komitmen industri hulu migas terhadap pelestarian lingkungan kembali ditegaskan. Sepanjang 2025, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) berhasil menanam sekitar 1,74 juta pohon di berbagai wilayah operasi di Indonesia.

Deputi Dukungan Bisnis SKK Migas, Eka Bhayu Setta, menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar program tambahan, melainkan bagian dari tanggung jawab industri terhadap masa depan lingkungan.

“Penanaman pohon merupakan bentuk tanggung jawab industri hulu migas terhadap pelestarian lingkungan sekaligus kontribusi nyata dalam menurunkan emisi karbon,” ujarnya.

Menurut Eka, konsistensi pelaksanaan program dalam empat tahun terakhir menunjukkan bahwa komitmen industri tidak bersifat simbolis, melainkan dilakukan secara terukur dan dalam skala besar. Ia menekankan bahwa sektor hulu migas berupaya memastikan aktivitas energi tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga keberlanjutan lingkungan.

Program penanaman pohon sepanjang 2025 diperkirakan mampu menyerap sekitar 481,8 ribu ton CO₂ per tahun. Kegiatan ini dilakukan melalui rehabilitasi lingkungan dan pelibatan masyarakat di sekitar wilayah operasi migas.

Dari total penanaman tahun ini, sekitar 1,15 juta pohon ditanam melalui rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS), sementara sekitar 590 ribu pohon berasal dari program pelibatan dan pemberdayaan masyarakat (PPM). Selain memenuhi kewajiban regulasi pemerintah, SKK Migas dan KKKS juga melakukan penanaman tambahan melalui program sosial lingkungan sebagai bentuk komitmen ekstra industri.

Secara kumulatif, dalam periode 2022 hingga 2025, SKK Migas dan KKKS telah menanam sekitar 8,45 juta pohon. Rinciannya meliputi 2,06 juta pohon pada 2022, meningkat menjadi 2,2 juta pohon pada 2023, kemudian 2,45 juta pohon pada 2024, dan 1,74 juta pohon pada 2025.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat sekitar wilayah operasi turut dilibatkan secara aktif. Jenis tanaman yang ditanam tidak hanya berfungsi ekologis, tetapi juga memiliki nilai ekonomi. Beberapa di antaranya adalah tanaman produktif dan multi purpose tree species (MPTS) seperti durian, alpukat, dan kelengkeng, serta tanaman kayu seperti meranti dan mahoni.

Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan manfaat ganda—menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pengelola.

Dengan target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada 2060, langkah konsisten industri hulu migas ini menjadi bagian penting dari upaya kolektif menuju transisi energi yang lebih berkelanjutan.