Depok, Jawa Barat, ruangenergi.com-Di bibir pelabuhan, tangki-tangki minyak berdiri membisu. Mereka tidak bicara, tidak bergerak, namun di balik dinding besinya tersimpan denyut nadi jutaan orang. Itulah watak dasar energi: ia bekerja dalam diam, namun kegagalannya akan berisik hingga ke meja makan dan dapur warga.
Jika kita membaca sejarah migas Indonesia secara perlahan, kita akan menyadari bahwa ini bukan sekadar urusan lifting, kilang, atau cadangan terbukti. Ini adalah cerita tentang waktu—tentang kemampuan sebuah bangsa untuk berpikir jauh melampaui kepentingan hari ini.
Antara Harapan dan Realitas
Filsuf Heraclitus pernah berujar bahwa panta rhei, segalanya mengalir. Dalam ekosistem energi, yang mengalir bukan hanya komoditas, melainkan keputusan. Saat birokrasi dan keputusan tersendat, maka aliran energi pun ikut terganggu. Di titik inilah kita sering terjebak dalam apa yang diperingatkan Nietzsche: manusia seringkali lebih mencintai harapan daripada kenyataan.
Dalam industri kita, harapan itu sering berwujud presentasi megah, target ambisius, dan rencana-rencana besar di atas kertas. Padahal, realitas energi itu sederhana sekaligus dingin: pipa harus terpasang, tangki harus terisi, dan proyek harus selesai tepat waktu. Tanpa itu, harapan hanyalah delusi kolektif.
Institusi, Bukan Sekadar Teknologi
Indonesia punya catatan sejarah yang kontras. Kita pernah berdiri tegak sebagai eksportir LNG terbesar di dunia, sebelum akhirnya harus berkompromi dengan realitas impor untuk memenuhi kebutuhan domestik. Ini bukan sekadar ironi sejarah, melainkan pengingat keras bahwa energi tidak mengenal nostalgia. Ia hanya mengenal investasi, disiplin, dan keberlanjutan.
Kesalahan yang sering berulang adalah anggapan bahwa kedaulatan energi melulu soal teknologi. Padahal, ia lebih sering merupakan soal institusi. Insinyur bisa membangun kilang secanggih apa pun, namun hanya konsistensi kebijakan yang mampu membangun ketahanan nasional.
Aristoteles pernah berkata, “Keunggulan bukanlah tindakan, melainkan kebiasaan.” Dalam konteks migas, keunggulan nasional bukanlah keberhasilan membangun satu proyek raksasa sesekali, melainkan kebiasaan mengambil keputusan yang tepat secara berulang-ulang selama puluhan tahun.
Melawan Godaan Instan
Hari ini, kita gegap gempita bicara transisi energi dengan nada revolusi. Namun sejarah mengajarkan bahwa energi jarang bergerak secara revolusioner; ia bergerak layaknya geologi—perlahan namun pasti. Panel surya, angin, LNG, dan minyak bumi akan hidup berdampingan lebih lama dari yang kita bayangkan.
Energi menuntut satu kebajikan yang kini mulai langka: kesabaran.
Pelajaran terbesar bagi kita sebenarnya sederhana. Bangsa ini tidak kekurangan sumber daya. Kita pun tidak kekurangan ide-ide brilian. Yang seringkali kurang adalah kemampuan untuk menunggu sambil terus bekerja, tanpa tergoda mengubah arah setiap kali nakhoda berganti.
Pada akhirnya, energi adalah cermin yang jujur bagi sebuah bangsa. Ia menunjukkan dengan telanjang: apakah kita mampu berpikir dalam ukuran waktu yang lebih panjang daripada masa jabatan kita sendiri?
|A||N||S| Dosen-GBUI Buitenzorg, 07 Februari 2026 Verba volant, scripta manent (Yang terucap akan hilang, yang tertulis akan abadi)













