SKK Migas Pacu Proyek Gas Raksasa, Andaman hingga Masela Didorong Onstream Sebelum 2030

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com— Sektor hulu migas Indonesia kembali menunjukkan geliat kuat. Dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI pada Rabu (11/2)/2026, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto memaparkan perkembangan sejumlah proyek strategis gas nasional yang menjadi tulang punggung target produksi energi Indonesia dalam dekade mendatang.

Mulai dari South Andaman, Papua Barat, Kalimantan Timur, hingga Maluku, proyek-proyek raksasa ini diproyeksikan menyumbang miliaran kaki kubik gas per hari sekaligus menarik investasi puluhan miliar dolar AS.

Andaman Jadi Motor Gas Baru Nasional

Proyek South Andaman yang dikembangkan Mubadala Energy menjadi salah satu sorotan utama. Lapangan ini diperkirakan mampu memproduksi gas sebesar 312 MMSCFD dan kondensat 7.500 BCPD.

Nilai investasinya mencapai sekitar US$1,95 miliar, dengan target mulai produksi pada 2028. Saat ini, dokumen Plan of Development (PoD) masih dalam proses persetujuan pemerintah, sekaligus diusulkan masuk Proyek Strategis Nasional (PSN).

Dari sisi engineering, progres Front End Engineering Design (FEED) terus berjalan, antara lain: FEED FPSO: 61,6%. FEED ORF: 61,5%. FEED SURF: 46,3%. FEED GEP: 32,3%

Keputusan investasi final (FID) ditargetkan pada Juni 2026, dengan pekerjaan konstruksi utama mulai kuartal IV 2026.

Kasuri Dorong Gas Papua Barat

Di Papua Barat, proyek Asap Kido Merah – Genting Oil Kasuri diproyeksikan menghasilkan 330 MMSCFD gas dan 1.200 BCPD kondensat.

Dengan investasi sekitar US$3,37 miliar, proyek ini menargetkan produksi melalui fasilitas FLNG pada 2027. Proyek ini sebelumnya telah di-groundbreaking Presiden RI pada November 2023.

Saat ini progres konstruksi masih tahap awal: EPF Onshore: 0,15%. EPC Onshore: 31,67%

Ekspansi Tangguh dan Mega Proyek IDD

Pengembangan lanjutan Tangguh melalui proyek UCC ditargetkan mencapai produksi puncak 476 MMSCFD gas dan 4.700 BCPD kondensat, dengan estimasi investasi US$4,5 miliar dan onstream 2028.

Sementara itu, proyek Indonesia Deepwater Development (IDD) dan Geng North menjadi salah satu proyek offshore terbesar Indonesia.

Total investasi diperkirakan mencapai: Southern Hub: US$3,7 miliar.Northern Hub: US$11,4 miliar

Cadangan gasnya sangat besar: IDD: 2,67 TCF + 66 juta barel minyak. Geng North: 5,3 TCF gas inplace

Produksi plateau diproyeksikan:. Southern Hub: 0,5 BCFD + 5.000 BCPD. Northern Hub: 1 BCFD + 50.000 BCPD

Selain produksi, proyek ini juga membuka peluang pengembangan Carbon Capture Storage (CCS) hingga 1,8 gigaton, menjadikannya penting bagi transisi energi nasional.

Masela Jadi Tulang Punggung LNG Masa Depan

Proyek raksasa Abadi Masela tetap menjadi salah satu proyek migas terbesar Indonesia dengan nilai investasi sekitar US$20,9 miliar.

Produksi puncak diperkirakan mencapai: LNG: 9,5 MTPA. Gas: 1.600 MMSCFD + tambahan 150 MMSCFD. Kondensat: 35.000 BCPD

Target onstream proyek ini adalah 2030. Saat ini progres FEED berada di kisaran 39–52%, sementara survei geologi offshore telah mencapai lebih dari 76%.

Djoko menegaskan, akselerasi proyek-proyek gas raksasa ini menjadi kunci menjaga ketahanan energi nasional sekaligus menopang kebutuhan industri dan transisi menuju energi lebih bersih.

Dengan kombinasi investasi jumbo, teknologi offshore kelas dunia, dan potensi CCS, Indonesia berupaya menjaga posisinya sebagai salah satu pemain utama gas di kawasan Asia Pasifik.