Washington D.C, Amerika Serikat, ruangenergi.com— Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menegaskan bahwa rencana impor energi dari Amerika Serikat senilai US$15 miliar merupakan langkah strategis untuk menjaga ketahanan energi nasional sekaligus menjembatani menuju kemandirian energi.
Pernyataan tersebut disampaikan Simon dalam siaran langsung konferensi pers Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengenai implementasi teknis sektor energi dan sumber daya mineral pasca penandatanganan perjanjian perdagangan timbal balik Indonesia–Amerika Serikat.
Menurut Simon, kebijakan impor bukanlah langkah luar biasa, melainkan mekanisme bisnis normal yang selama ini telah dijalankan Pertamina.
Ia menjelaskan, kebutuhan impor masih diperlukan karena produksi migas nasional menghadapi tantangan penurunan alamiah (natural decline). Untuk menutup kesenjangan pasokan tersebut, Pertamina bersama SKK Migas dan para kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) terus mendorong peningkatan produksi dan lifting melalui berbagai terobosan.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, Pertamina telah menjalin sejumlah nota kesepahaman (MoU) dengan mitra energi asal Amerika Serikat sejak Juli lalu, termasuk ExxonMobil, Chevron. Terbaru, perusahaan pelat merah itu juga menandatangani MoU dengan Halliburton untuk kerja sama teknologi peningkatan produksi lapangan minyak (oil field recovery).
Simon menekankan kerja sama ini tidak hanya berfokus pada pasokan energi, tetapi juga transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan penerapan praktik terbaik global industri migas.
Di sisi lain, Pertamina juga memperkuat strategi diversifikasi sumber impor agar memperoleh harga paling kompetitif. Saat ini, sekitar 57 persen impor LPG Pertamina berasal dari Amerika Serikat dan angka tersebut berpotensi meningkat hingga 70 persen seiring implementasi kesepakatan dagang kedua negara.
“Selain Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika, Amerika Serikat menjadi salah satu sumber penting yang akan kami optimalkan,” katanya.
Untuk minyak mentah (crude), Pertamina juga berencana meningkatkan porsi pasokan dari AS, sementara untuk produk energi lainnya perusahaan masih melakukan penjajakan dengan berbagai mitra.
Simon memastikan seluruh proses kerja sama akan dilakukan secara transparan dan sesuai regulasi. Finalisasi teknis kesepakatan diperkirakan rampung dalam 90 hari ke depan, termasuk dukungan kebijakan, perizinan, dan keputusan pemerintah.
Ia menambahkan, kerja sama energi Indonesia–AS dirancang sebagai kemitraan saling menguntungkan (win-win solution) yang tetap menghormati aturan di masing-masing negara.
“Kami berharap seluruh proses berjalan baik dan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Indonesia sekaligus mitra di Amerika Serikat,” ujarnya.

