Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — Sinyal kuat dukungan pemerintah mengemuka dalam Debottlenecking Session Discusses LNG Investment in Masela Block Dalam forum tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Sadewa menegaskan kesiapan pemerintah melakukan penyesuaian kebijakan demi memastikan proyek LNG Masela kompetitif di pasar global.
Di sisi lain Jarrad Blinco, Executive Project Director INPEX Masela, Ltd., memaparkan tantangan riil proyek raksasa tersebut: lonjakan biaya global, persaingan dengan Amerika Serikat dan Timur Tengah, serta kebutuhan menyeimbangkan pasar domestik dan internasional.
Dalam sesi yang berlangsung intens, Purbaya menyampaikan pesan tegas kepada manajemen INPEX:
“Jika ada regulasi yang menghambat atau meningkatkan biaya produksi sehingga mengganggu daya saing global, sampaikan kepada kami. Kami akan melakukan penyesuaian yang diperlukan.”
Pernyataan ini menjadi sinyal politik yang kuat. Pemerintah tidak hanya ingin proyek berjalan tepat waktu, tetapi juga dipercepat. Fokusnya jelas: memastikan Final Investment Decision (FID) segera tercapai.
Namun sebelum bicara insentif lebih jauh, pemerintah mengajukan pertanyaan krusial: Berapa porsi LNG Masela untuk pasar domestik?
Blinco menjawab diplomatis namun realistis.
Pembagian antara pasar domestik dan internasional, kata dia, masih belum diputuskan. INPEX ingin memaksimalkan kontribusi domestik, tetapi kebutuhan pembiayaan proyek bernilai lebih dari USD 20 miliar menuntut adanya pembeli internasional.
“Untuk project financing, kami membutuhkan pembeli global. Jadi harus ada keseimbangan yang wajar antara pasar domestik dan internasional.”
Ini bukan sekadar pilihan komersial, melainkan prasyarat bankability proyek kelas dunia.
Pertanyaan berikutnya menyentuh inti keekonomian: Apakah harga LNG Masela bisa bersaing di pasar global? Apakah di kisaran USD 12 per MMBtu?
Blinco belum mau menyebut angka.
Menurutnya, INPEX sudah melakukan *early market engagement* dengan calon pembeli, dan indikasi harga “terlihat cukup baik”. Namun negosiasi masih dalam tahap awal dan belum mencapai *Heads of Agreement (HoA)* yang akan menentukan harga riil kargo LNG.
“Masih terlalu dini untuk menyampaikan angka spesifik.”
Jawaban ini mencerminkan kehati-hatian komersial di tengah volatilitas pasar energi global.
Blok Masela bukan proyek biasa. Dengan kapasitas sekitar 9,5 juta ton per tahun dan tambahan produksi kondensat, proyek ini masuk jajaran tiga hingga empat besar LNG dunia dalam tahap pengembangan.
Lokasinya di laut dalam sekitar 800 meter di kawasan timur Indonesia menambah kompleksitas teknis dan logistik. Infrastruktur terbatas, biaya konstruksi tinggi, dan tekanan inflasi global membuat estimasi investasi berpotensi melampaui USD 20 miliar.
Lebih jauh, INPEX juga harus bersaing mendapatkan kontraktor global yang kini diburu proyek LNG di Amerika Serikat dan Timur Tengah.
“Untuk proyek sebesar ini, kami bersaing dengan dunia,” ujar Blinco.
Masela juga dirancang memproduksi LNG yang lebih bersih dengan skema penangkapan dan reinjeksi CO₂ (CCS). Langkah ini penting karena pembeli internasional kini tidak hanya mencari LNG, tetapi **clean LNG**.
Artinya, daya saing Masela bukan hanya soal harga, tetapi juga jejak karbon.
Pertemuan ini memperlihatkan dua hal penting: Pemerintah ingin percepatan, bukan sekadar kelancaran administratif. INPEX membutuhkan kepastian regulasi dan dukungan fiskal untuk menjaga keekonomian proyek.
Dengan status Proyek Strategis Nasional dan besarnya dampak ekonomi ke wilayah timur Indonesia, Masela bukan sekadar proyek energi. Ia adalah simbol posisi Indonesia dalam peta LNG global.
Kini, bola ada pada penyelesaian negosiasi komersial dan harmonisasi kebijakan. Jika keduanya bertemu di titik optimal, Masela bisa menjadi salah satu keputusan investasi energi terbesar dalam sejarah Indonesia.
Dan seperti ditegaskan dalam forum itu: bukan hanya soal berjalan tepat waktu — tetapi bagaimana membuatnya melaju lebih cepat.

