Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — Industri hulu migas Indonesia kembali menunjukkan taringnya. Dalam dua pekan pertama Juni 2026, grup Pertamina sukses menambah pasokan energi nasional secara signifikan dari dua front sekaligus: minyak dari Lapangan Sejadi dan gas dari Blok Mahakam, Kalimantan Timur.
Di tengah tekanan global terhadap keamanan energi dan volatilitas harga minyak, perkembangan ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia masih menjadi salah satu hotspot investasi hulu migas paling menarik di Asia Tenggara.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, melaporkan keberhasilan PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) menyelesaikan dua sumur pengembangan di Lapangan Sejadi, offshore Kalimantan Timur, dengan total tambahan produksi mencapai 1.865 barel minyak per hari (BOPD).
Dua sumur tersebut—SJ-6 dan SJ-4RD1—rampung pada 12 Juni 2026 dengan performa yang langsung “on target”. Sumur SJ-6 sebagai new drill mencatat produksi 942 BOPD, sementara SJ-4RD1 menghasilkan 923 BOPD plus tambahan gas 0,853 MMSCFD.
Yang membuat proyek ini menjadi perhatian pelaku industri adalah eksekusinya: selesai lebih cepat dari jadwal, biaya lebih rendah dari anggaran, dan zero accident.
Model operasi seperti ini menjadi benchmark penting di tengah tuntutan efisiensi global dalam pengembangan offshore assets.
Di saat yang hampir bersamaan, PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) juga mencatat pencapaian strategis lewat onstream platform WPN-6 di Lapangan Sisi Nubi, Blok Mahakam.
Sejak mulai beroperasi pada 5 Juni 2026, anjungan tersebut telah mengalirkan tambahan gas sekitar 20 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), memperkuat posisi Mahakam sebagai tulang punggung gas nasional.
General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, menjelaskan dua sumur utama di WPN-6—NB-601 dan NB-603—masing-masing menghasilkan sekitar 6 MMSCFD dan 8 MMSCFD pada fase awal, dengan target optimalisasi hingga mencapai plateau produksi 20 MMSCFD.
WPN-6 sendiri menjadi platform keempat yang onstream dalam mega proyek pengembangan Sisi Nubi Area of Interest (AOI) 135, dari total enam platform yang direncanakan.
Bagi investor dan pelaku bisnis global, rangkaian keberhasilan ini mengirim pesan yang jelas: Indonesia sedang mempercepat monetisasi aset offshore mature dengan pendekatan teknologi, efisiensi biaya, dan optimasi fasilitas.
PHKT berhasil meningkatkan kapasitas deck untuk mendukung drilling yang lebih agresif, sementara PHM mengandalkan serangkaian pengujian teknis ketat—mulai dari emergency shutdown test, clean-up well, hingga nitrogen leak test—untuk memastikan keandalan fasilitas.
Kombinasi antara speed execution, low-cost delivery, dan production reliability menjadi formula yang kini semakin terlihat konsisten di tubuh Pertamina Group.
Momentum ini sangat penting karena Indonesia sedang berpacu mengejar target lifting minyak nasional 610.000 BOPD sekaligus menjaga ketahanan pasokan gas domestik di tengah pertumbuhan kebutuhan industri.
Bagi pasar global, ini bukan sekadar kabar produksi. Ini adalah indikator bahwa Indonesia masih memiliki runway panjang untuk investasi upstream—terutama di offshore brownfield optimization, enhanced oil recovery (EOR), dan gas infrastructure expansion.
Pesannya jelas: ketika banyak lapangan mature dunia melambat, Kalimantan justru sedang memanas.

