Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Laut Indonesia bukan hanya kaya ikan dan jalur perdagangan. Di bawah permukaan dan di atas hamparan ombaknya, tersimpan “harta karun” energi raksasa yang bisa menjadi penopang masa depan ketahanan energi nasional.
Mulai dari cadangan gas bumi laut dalam (deepwater oil and gas) hingga potensi energi angin lepas pantai (offshore wind), Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat pasokan energi sekaligus mendorong ekonomi biru berkelanjutan.
Namun, besarnya potensi itu datang bersama tantangan besar.
Pelaksana Tugas Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), Luki Subehi, menegaskan bahwa pengelolaan energi laut tak cukup hanya mengandalkan sumber daya alam, tetapi juga membutuhkan riset yang kuat, integrasi data, dan kerja sama lintas sektor.
“Indonesia memiliki potensi sumber daya kelautan yang sangat besar untuk mendukung ketahanan energi, ekonomi biru, dan pembangunan berkelanjutan. Namun, pemanfaatannya membutuhkan penguatan riset, integrasi data kelautan, serta kolaborasi erat antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat,” ujar Luki Subehi, seperti dikutip dari website BRIN.
Pernyataan itu disampaikan dalam forum ilmiah peringatan Hari Laut Sedunia bertema Sustainable Marine Resources for Our Planet di Kawasan Sains dan Teknologi Sarwono Prawirohardjo BRIN, Jakarta.
Menurut Luki, Badan Riset dan Inovasi Nasional terus memperkuat riset kelautan, mulai dari sistem observasi laut, integrasi data, hingga pengembangan teknologi pemantauan pesisir dan laut. Harapannya, riset tersebut menjadi fondasi kebijakan berbasis sains dalam pengelolaan sumber daya laut nasional.
Dalam forum itu, praktisi industri energi sekaligus alumni Teknik Kelautan Institut Teknologi Bandung, Satyo Baskoro, membeberkan besarnya potensi gas bumi laut dalam Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Indonesia memiliki 121 cekungan sedimen yang menyimpan cadangan migas besar, terutama gas bumi.
Beberapa wilayah unggulan antara lain Tangguh LNG, Blok Masela, Selat Makassar, dan Blok Andaman.
“Cadangannya mencapai puluhan triliun kaki kubik gas. Ini bisa menjadi tulang punggung energi nasional di masa depan,” kata Satyo.
Meski menjanjikan, eksplorasi laut dalam bukan pekerjaan murah. Sebagian besar cadangan baru berada di kedalaman lebih dari 1.000 meter, menuntut teknologi khusus seperti sistem pengeboran canggih, instalasi bawah laut, hingga fasilitas produksi terapung.
Biaya pengembangannya pun fantastis: bisa mencapai 4 hingga 15 miliar dolar AS per lapangan.
“Di sinilah tantangan terbesarnya. Teknologi mahal, risiko tinggi, dan butuh investasi jangka panjang,” ujarnya.
Selain itu, infrastruktur menjadi faktor krusial. Gas yang diproduksi harus terhubung ke jaringan pipa atau fasilitas LNG agar ekonomis. Satyo menilai kawasan Selat Makassar lebih siap karena telah memiliki infrastruktur pendukung, sementara Andaman masih membutuhkan pembangunan besar-besaran.
Tak hanya di bawah laut, energi masa depan Indonesia juga berhembus dari atas permukaan laut.
Praktisi offshore wind internasional dari ALKA ITB, Bobby Weliyanto, mengungkapkan Indonesia memiliki potensi energi angin lepas pantai hingga 200 gigawatt (GW), merujuk kajian World Bank.
Potensi itu tersebar di Papua, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Laut Jawa bagian selatan, Aceh, hingga Natuna.
Menurut Bobby, Indonesia punya keunggulan geografis yang jarang dimiliki negara lain: sebagian besar wilayah lautnya berada di luar jalur badai tropis.
“Artinya, risiko pembangunan infrastruktur offshore wind lebih rendah dibanding banyak negara lain,” jelasnya.
Energi angin lepas pantai dinilai dapat menjadi bagian penting dari transisi energi menuju target dekarbonisasi dan net zero emission. Tak hanya itu, sektor ini juga berpotensi memicu pertumbuhan industri nasional melalui penguatan rantai pasok domestik.
Bobby menilai pengalaman panjang industri migas Indonesia dalam konstruksi lepas pantai bisa menjadi modal besar.
“SDM kita sebenarnya sudah siap. Pengalaman membangun platform migas bisa menjadi pijakan kuat untuk industri offshore wind,” katanya.
Namun, tantangan terbesarnya terletak pada jaringan listrik. Banyak lokasi berpotensi tinggi justru jauh dari pusat konsumsi energi dan belum memiliki sistem transmisi yang memadai.
Karena itu, integrasi tata ruang laut, pembangunan jaringan listrik nasional, dan sinergi kebijakan dinilai menjadi kunci.
Forum yang mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah, industri, dan komunitas kelautan itu menghasilkan satu kesimpulan utama: masa depan energi laut Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya cadangan, tetapi juga oleh kemampuan bangsa membangun ekosistem inovasi.
Dengan dukungan riset, teknologi, investasi, dan regulasi yang tepat, energi laut—baik dari gas laut dalam maupun angin lepas pantai—bisa menjadi pilar penting menuju ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat lahirnya ekonomi biru Indonesia.

