Energi Sampai Ujung Negeri! Pertamina Pastikan BBM dan LPG Tak Putus di Wilayah 3T

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com – Di negeri kepulauan seperti Indonesia, memastikan energi sampai ke pelosok bukan sekadar urusan bisnis, tetapi menyangkut denyut kehidupan masyarakat. Dari kota metropolitan hingga kawasan 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal), PT Pertamina terus memperkuat jaringan distribusi agar BBM dan LPG tetap hadir tanpa hambatan.

Sepanjang Januari hingga Desember 2025, melalui Subholding Downstream, Pertamina mencatat penyaluran energi bersubsidi dan penugasan dalam jumlah besar. Tercatat, Solar Subsidi mencapai 18,23 juta kiloliter, Pertalite 28,06 juta kiloliter, minyak tanah 507,94 ribu kiloliter, dan LPG Tabung 3 Kg sebanyak 8,52 juta metrik ton.

Angka tersebut menunjukkan betapa vitalnya peran Pertamina dalam menjaga roda ekonomi nasional tetap bergerak, terutama di tengah tingginya kebutuhan energi masyarakat di berbagai daerah.

Keandalan distribusi itu didukung infrastruktur masif yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Hingga akhir 2025, Pertamina telah mengoperasikan 15.380 titik penyaluran BBM serta 273.388 pangkalan LPG di 38 provinsi. Jaringan ini menjadi tulang punggung distribusi energi nasional yang menjaga pasokan tetap stabil.

Tak hanya itu, untuk mempersempit ketimpangan akses energi di wilayah 3T, Pertamina telah membangun 588 lembaga penyalur BBM Satu Harga sepanjang 2017 hingga 2025. Program ini menjadi solusi penting agar masyarakat di daerah terpencil bisa menikmati BBM dengan harga yang setara seperti di kota besar.

Langkah ekspansi juga diperkuat lewat 6.703 unit Pertashop yang menjangkau wilayah yang belum memiliki SPBU. Sementara untuk distribusi LPG bersubsidi, Program One Village One Outlet (OVOO) kini telah hadir di 70.451 desa dan kelurahan atau sekitar 96,3 persen wilayah Indonesia.

Di balik kelancaran distribusi energi itu, ada kekuatan logistik laut yang menjadi penghubung antarwilayah. Sepanjang 2025, Pertamina mengoperasikan 481 armada kapal yang terdiri dari 110 kapal tanker, 1 unit Floating Storage Offloading (FSO), dan 370 marine support vessel.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa ketahanan energi nasional bukan hanya soal stok, tetapi juga soal memastikan energi bisa hadir tepat waktu di tangan masyarakat.

“Sebagai BUMN energi, Pertamina mengemban amanah untuk memastikan masyarakat dapat memperoleh akses energi di mana pun mereka berada. Karena itu, kami terus memperkuat jaringan distribusi dan infrastruktur agar BBM maupun LPG dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah terdepan, terluar, dan tertinggal,” ujarnya.

Menurut Baron, di balik setiap liter BBM dan tabung LPG yang diterima masyarakat, terdapat sistem logistik yang bekerja tanpa henti dan terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Dengan penguatan jaringan BBM Satu Harga, Pertashop, hingga pangkalan LPG, Pertamina menegaskan komitmennya untuk menjaga energi tetap mengalir merata. Sebab di Indonesia, energi bukan sekadar komoditas—ia adalah penggerak kehidupan dan fondasi pertumbuhan ekonomi nasional.