Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Di tengah tekanan industri nikel global yang makin dinamis, Harita Nickel memilih menginjak pedal gas. Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 dan Public Expose 2026, perusahaan berkode saham NCKL itu menegaskan arah strategisnya: memperkuat efisiensi, memperdalam hilirisasi, dan menjaga keberlanjutan bisnis jangka panjang.
Dalam RUPST yang digelar Selasa (30/6) di Jakarta, seluruh agenda perseroan mendapat lampu hijau dari pemegang saham. Mulai dari pengesahan laporan keuangan auditan, penggunaan laba bersih, penunjukan akuntan publik, remunerasi direksi dan komisaris, hingga kelanjutan program buyback saham.
Corporate Secretary Harita Nickel, Rafika Fazrin, menyebut dukungan penuh pemegang saham menjadi modal penting bagi perusahaan untuk terus menjalankan agenda korporasi secara disiplin, transparan, dan berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang.
Usai RUPST, manajemen Harita Nickel memaparkan langkah besar yang sedang dijalankan. Salah satunya adalah memperkuat fundamental operasional, meningkatkan efisiensi produksi, menjaga keandalan pasokan, dan mengoptimalkan rantai nilai nikel terintegrasi dari hulu ke hilir.
Tak hanya itu, Harita Nickel juga tengah menyelesaikan sejumlah proyek strategis dan mengembangkan fasilitas produksi kapur tohor (quicklime). Langkah ini dinilai penting untuk memperdalam integrasi rantai pasok sekaligus menekan biaya operasional dalam jangka panjang.
Di sisi keberlanjutan, Harita Nickel menegaskan komitmennya pada prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Perusahaan terus menjalankan inisiatif dekarbonisasi, pengelolaan lingkungan terpadu, perlindungan keanekaragaman hayati, hingga pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Sebagai informasi, Harita Nickel yang beroperasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, merupakan pionir pengolahan nikel limonit dengan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) di Indonesia. Teknologi ini memungkinkan bijih nikel kadar rendah diolah menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) yang kemudian menjadi bahan baku penting untuk baterai kendaraan listrik.
Langkah Harita Nickel ini memperlihatkan bahwa persaingan industri nikel ke depan bukan lagi sekadar soal produksi, tetapi soal efisiensi, integrasi, dan keberlanjutan. Dan Harita tampaknya ingin memastikan dirinya tetap berada di barisan terdepan dalam peta hilirisasi mineral nasional.


