Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com – Di balik kabar menggembirakan ditemukannya cadangan gas raksasa di Blok Andaman, tersimpan tantangan yang tak kalah besar.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengungkapkan, dalam diskusi bertajuk Peugah Haba Energi, persoalan utama proyek senilai US$7,7 miliar atau sekitar Rp125 triliun itu bukan lagi soal teknologi pengeboran, melainkan memastikan ada pembeli yang sanggup menyerap seluruh produksi gasnya.
Dalam paparannya kepada kalangan akademisi dan pemangku kepentingan, Djoko menjelaskan cadangan gas di wilayah kerja Mubadala Energy diperkirakan mencapai 1,2 triliun kaki kubik (TCF) secara optimistis, dengan potensi produksi sekitar 312 MMSCFD. Setelah dipisahkan dari kandungan CO₂ dan H₂S, gas bersih yang siap dipasarkan diperkirakan mencapai 301 MMSCFD, disertai produksi sekitar 3.000 barel kondensat per hari.
“Gas itu berbeda dengan minyak. Tidak bisa disimpan lama. Begitu ditemukan, kita harus sudah tahu siapa pembelinya. Kalau tidak ada pembeli, proyek sebesar apa pun tidak akan jalan,” tegas Djoko.
Menurutnya, PLN telah menyatakan kesediaan menyerap sekitar 160 MMSCFD, sesuai kapasitas pipa Arun–Belawan yang masih tersedia. Namun masih ada sekitar 140 MMSCFD gas yang hingga kini belum memiliki pasar.
Inilah pekerjaan rumah terbesar yang kini dihadapi pengembang proyek.
Investasi Raksasa, Harga Gas Jadi Penentu
Djoko mengungkapkan, dengan investasi mencapai US$7,7 miliar, harga jual gas minimal harus berada di kisaran US$9 per MMBTU agar proyek menghasilkan tingkat pengembalian investasi (IRR) sekitar 15 persen.
Masalahnya, harga tersebut dinilai cukup tinggi sehingga membuat pencarian pembeli tambahan tidak mudah.
“Untung PLN bersedia membeli. Kalau tidak, proyek ini bisa saja tidak bergerak,” ujarnya.
Ia menambahkan, FEED (Front End Engineering Design) telah selesai pada Mei lalu. Namun hingga kini salah satu mitra proyek masih belum menandatangani Final Investment Decision (FID) sehingga keputusan investasi penuh masih tertunda.
Meski demikian, Mubadala Energy tetap menyatakan komitmennya untuk melanjutkan pengembangan lapangan tersebut.
Mengapa Gas Tidak Langsung Dialirkan ke Darat?
Djoko juga meluruskan berbagai anggapan yang berkembang mengenai skema pengembangan Blok Andaman.
Menurutnya, lokasi sumur berada sekitar 85 kilometer dari pantai dengan kedalaman laut mencapai 1.000–1.300 meter, sehingga membangun delapan jalur pipa langsung dari masing-masing sumur menuju daratan bukan pilihan yang ekonomis.
Selain itu, gas yang diproduksi masih bercampur air, kondensat, karbon dioksida (CO₂), serta hidrogen sulfida (H₂S) yang bersifat sangat korosif.
Karena itu, SKK Migas memilih konsep yang lazim digunakan di berbagai proyek laut dalam dunia, yakni membangun Floating Storage and Offloading (FSO) atau fasilitas pengolahan terapung.
Di fasilitas tersebut gas akan dipisahkan terlebih dahulu dari air, kondensat dan impuritas sebelum dialirkan ke darat melalui satu pipa utama.
“Kalau semuanya langsung dipipakan ke darat, material pipanya harus sangat mahal karena menghadapi gas yang korosif. Itu tidak efisien,” jelas Djoko.
SKK Migas bahkan sempat mengusulkan penggunaan Floating Liquefied Natural Gas (FLNG) untuk mengolah sebagian gas di laut.
Konsep ini dinilai memberikan fleksibilitas lebih tinggi apabila terjadi gangguan pada jaringan pipa atau bila gas ingin dipasarkan dalam bentuk LNG ke wilayah lain maupun ekspor.
Namun hingga kini skema tersebut masih terus dikaji bersama pengembang lapangan.
Menariknya, Djoko membuka ruang selebar-lebarnya bagi kalangan kampus, profesor, mahasiswa maupun konsultan untuk mengajukan konsep alternatif pengembangan Blok Andaman.
Ia mempersilakan siapa pun menghitung ulang skema investasi, biaya transportasi gas hingga model komersialisasi yang lebih murah dibanding rancangan saat ini.
“Kalau ada konsep yang lebih efisien, silakan diadu dengan konsep Mubadala. Banyak orang pintar di Indonesia. Kalau memang lebih murah, tentu akan menjadi bahan pertimbangan,” katanya.
Apabila seluruh proses investasi, perizinan dan pembangunan berjalan sesuai rencana, lapangan gas laut dalam tersebut ditargetkan mulai mengalirkan gas pada Desember 2028.
Dengan potensi penerimaan negara yang diperkirakan mencapai US$2,78 miliar, proyek ini dipandang sebagai salah satu pengembangan gas laut dalam paling strategis di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Kini, tantangan terbesar bukan lagi menemukan cadangan gas, melainkan memastikan gas tersebut benar-benar memiliki pasar. Sebab, di industri migas, cadangan besar baru akan menjadi berkah ketika berhasil diubah menjadi produksi yang terserap oleh konsumen.

