IBC dan Pertamina Satukan Kekuatan, Bangun Ekosistem Baterai Nasional dari Hulu ke Hilir

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Karawang, ruangenergi.com-Indonesia kembali memperkuat langkah menuju era energi masa depan. PT Industri Baterai Indonesia (IBC) dan PT Pertamina (Persero) resmi menggandengkan kekuatan untuk membangun ekosistem industri baterai nasional yang terintegrasi.

Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) tentang Sinergi Pengembangan Ekosistem Industri Baterai Terintegrasi di Karawang, Senin (31/8/2026).

MoU diteken Direktur Pengembangan Bisnis IBC Niko Chandra dan Senior Vice President Technology Innovation & Implementation Pertamina Hana Timoti. Kerja sama ini disebut menjadi babak baru kolaborasi strategis dua perusahaan nasional dalam mempercepat transisi energi Indonesia.

Bukan sekadar kerja sama bisnis, sinergi IBC dan Pertamina diarahkan untuk memperkuat industri baterai Indonesia dari hulu hingga hilir. IBC menilai keterlibatan Pertamina akan membuka peluang integrasi kekuatan dua perusahaan nasional untuk membangun ekosistem baterai yang lebih kokoh dan berkelanjutan.

“Kami percaya bahwa sinergi ini akan memberikan kontribusi nyata bagi percepatan transisi energi Indonesia sekaligus memperkuat posisi Indonesia di peta industri baterai global,” ujar Niko Chandra.

Kejar Teknologi Baterai Generasi Baru

Kerja sama ini juga menyentuh sisi teknologi. IBC dan Pertamina akan berkolaborasi dalam riset dan pengembangan teknologi pemulihan material kritis dari baterai bekas, termasuk logam dan material strategis.

Keduanya juga akan melakukan benchmarking serta kajian teknis untuk pembangunan fasilitas manufaktur recycle dan reuse dengan standar global.

Tak berhenti di sana, kolaborasi riset diarahkan pada pengembangan material dan teknologi baterai generasi berikutnya, termasuk Sodium-ion Battery (SIB) dan Solid-state Battery (SSB).

Langkah ini menjadi penting karena pengembangan industri baterai tidak hanya berbicara mengenai produksi sel baterai, tetapi juga bagaimana materialnya dapat dipulihkan, digunakan kembali, dan dikembangkan menjadi teknologi baru.

Minyak dan Gas Pertamina Masuk Rantai Pasok Baterai

Yang menarik, sinergi ini juga membuka peluang pemanfaatan material turunan minyak dan gas milik Pertamina sebagai material pendukung dalam rantai pasok IBC.

Hana Timoti menyebut langkah tersebut sebagai terobosan yang menghubungkan kekuatan sektor energi konvensional dengan energi masa depan.

Dengan demikian, kolaborasi keduanya berpotensi menciptakan hubungan yang lebih luas antara industri energi yang selama ini menjadi kekuatan Pertamina dengan industri baterai yang tengah dikembangkan IBC.

BESS Buatan Indonesia Akan Diuji di Pertamina

Kolaborasi IBC dan Pertamina juga akan masuk ke tahap pengembangan produk Battery Energy Storage System (BESS).

IBC akan berkontribusi mengembangkan dua produk, yakni Portable Power Station dan Stationary Power Station, dengan kapasitas minimum 20 kWh dan menggunakan battery cell produksi IBC.

Produk tersebut nantinya akan diuji langsung di fasilitas dan wilayah operasional Pertamina. Uji coba ini diharapkan menjadi pembuktian terhadap keandalan teknologi baterai yang dikembangkan di Indonesia.

Bagi IBC, kerja sama ini sekaligus menegaskan perannya sebagai perusahaan yang dibangun untuk mengintegrasikan seluruh rantai nilai industri baterai kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi di Indonesia.

Niko menegaskan, sinergi IBC dan Pertamina mencerminkan semangat bersama untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Jika kolaborasi ini berjalan sesuai rencana, Indonesia bukan hanya menjadi pasar bagi teknologi baterai, tetapi memiliki peluang lebih besar untuk membangun rantai industri baterai sendiri—mulai dari teknologi, material, manufaktur, pemanfaatan hingga daur ulang.