Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com– Upaya memperkuat produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional terus berjalan. Kali ini, perhatian tertuju pada kedatangan Conductor Support Frame (CSF) milik Conrad Petroleum, struktur penunjang yang menggunakan material pipa baja dengan bobot mencapai 750 ton.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto bercerita kepada ruangenergi.com, dia menerima laporan dari tim Conrad Petroleum dan SKK Migas pada Sabtu (10/10/2026) mengenai perkembangan pengadaan material tersebut. CSF beserta material pipanya dijadwalkan tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada 22 Oktober 2026.
Material yang disiapkan ini memiliki spesifikasi beragam. Terdapat 27 variasi ukuran diameter dan jenis grade pipa, dengan total 242 batang (joint). Setiap batang memiliki panjang 12 meter.
Di balik besarnya kebutuhan material tersebut, ada upaya mendorong keterlibatan industri nasional dalam rantai pasok proyek hulu migas.
Pelat-pelat baja yang digunakan berasal dari Krakatau Steel di Cilegon, Banten. Material tersebut selanjutnya akan difabrikasi di PT PAL Indonesia, Surabaya, Jawa Timur.
Melalui skema ini, tingkat komponen dalam negeri (TKDN) untuk CSF secara keseluruhan ditargetkan mencapai 65 persen.
Target tersebut menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan pemanfaatan produk dan kemampuan manufaktur dalam negeri untuk mendukung kegiatan hulu migas. Keterlibatan industri baja dan galangan nasional juga membuka ruang bagi penguatan rantai pasok domestik.
Dengan demikian, proyek ini tidak hanya berfokus pada kesiapan material untuk kebutuhan operasi migas, tetapi juga pada peningkatan kontribusi industri nasional dalam pengerjaan fasilitas penunjang.
Dalam laporannya kepada Djoko Siswanto, tim Conrad Petroleum dan SKK Migas turut memohon doa agar seluruh tahapan pekerjaan berjalan lancar, aman, dan selamat, serta fasilitas dapat mulai beroperasi (onstream) sesuai jadwal.
Kedatangan material pada 22 Oktober mendatang menjadi salah satu tahapan yang perlu dikawal sebelum proses berikutnya dilaksanakan. Koordinasi logistik, fabrikasi, dan kesiapan pekerjaan menjadi bagian penting untuk menjaga target penyelesaian proyek.
Laporan tersebut ditutup dengan semangat bersama untuk meningkatkan produksi migas nasional melalui pesan: “Bersama Kita: Doa & BISA. Lifting Naik: BISA, BISA, BISA!”
Pesan itu mencerminkan harapan agar berbagai upaya pengembangan fasilitas dan kegiatan hulu migas dapat berkontribusi terhadap peningkatan lifting minyak dan gas Indonesia.


