Bojonegoro, ruangenergi.com— Teknologi baru kembali menjadi senjata ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) untuk mengoptimalkan produksi minyak dari Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, Jawa Timur.
EMCL menjadi operator pertama di industri hulu migas Indonesia yang menerapkan teknologi straddle packer. Teknologi tersebut digunakan pada Sumur A10, salah satu sumur di Lapangan Minyak Banyu Urip yang menghadapi tantangan produksi karena tingginya volume gas dan air yang ikut terproduksi bersama minyak.
Intervensi dilakukan dengan pendekatan yang lebih presisi. Straddle packer memungkinkan bagian tertentu di dalam sumur diisolasi sementara menggunakan elemen penyekat yang dapat mengembang.
Dengan metode tersebut, penanganan dapat diarahkan secara spesifik ke zona yang menghasilkan air atau gas berlebih, tanpa memberikan dampak besar terhadap zona yang masih produktif menghasilkan minyak.
Hasilnya cukup mencolok.
Produksi minyak Sumur A10 meningkat sekitar 40 persen, dari sebelumnya sekitar 4.000 barel minyak per hari (BOPD) menjadi 5.600 BOPD.
Bukan hanya produksi minyak yang meningkat. Penerapan teknologi tersebut juga berhasil menurunkan water cut sebesar 31,8 poin persentase dan memangkas formation gas-oil ratio (GOR) sekitar 85,6 persen.
Menjinakkan Air dan Gas Berlebih
Tantangan produksi pada Sumur A10 menunjukkan bahwa meningkatkan produksi minyak tidak selalu berarti melakukan intervensi besar terhadap keseluruhan sumur.
Dengan straddle packer, EMCL dapat melakukan pengendalian secara lebih terarah. Zona yang menghasilkan air atau gas berlebih dapat diisolasi, sementara zona yang masih menghasilkan minyak tetap dipertahankan produktivitasnya.
Pendekatan ini menjadi penting dalam pengelolaan lapangan migas yang telah berproduksi, ketika karakteristik reservoir dan kondisi sumur terus berubah.
Keberhasilan di Sumur A10 sekaligus menunjukkan kombinasi antara teknologi, keahlian tenaga kerja Indonesia, dan eksekusi operasi dapat menghasilkan solusi yang lebih presisi untuk mempertahankan bahkan meningkatkan produksi minyak.
Bukan Teknologi Pertama yang Dicoba EMCL
Straddle packer bukan satu-satunya inovasi yang telah digunakan EMCL di Lapangan Banyu Urip.
Sebelumnya, EMCL juga telah menerapkan Low Dosage Acid (LDA) dan Gas Shut-Off (GSO).
LDA menggunakan cairan asam dalam dosis rendah untuk membantu memperbaiki aliran fluida. Sementara GSO digunakan untuk mengendalikan produksi gas berlebih agar produksi minyak tetap dapat dipertahankan secara optimal.
EMCL juga telah memanfaatkan Dynamic Matrix Controller (DMC), sebuah sistem digital yang menganalisis data secara real-time. Sistem ini membantu memprediksi perubahan kondisi operasi dan melakukan penyesuaian secara otomatis untuk mendukung optimalisasi fasilitas produksi di Central Processing Facility (CPF).
Rangkaian inovasi tersebut memperlihatkan bahwa optimalisasi produksi Banyu Urip tidak hanya mengandalkan pengeboran sumur baru, tetapi juga bagaimana teknologi digunakan untuk memaksimalkan potensi sumur yang sudah berproduksi.
Bagi Indonesia, keberhasilan meningkatkan produksi dari 4.000 menjadi 5.600 BOPD di satu sumur menjadi contoh bahwa teknologi intervensi yang tepat dapat memberikan tambahan produksi signifikan dari aset migas yang sudah ada.
EMCL menyatakan akan terus mendorong inovasi dan penerapan teknologi untuk mengoptimalkan produksi energi yang andal dari Blok Cepu sekaligus memberikan kontribusi terhadap ketahanan energi nasional.


