Ahai! Duet Bahlil-Ara Siapkan Perumahan Hijau Berbasis PLTS: Ada Lahan Hibah 30 Hektare di Meikarta

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Langkah inovatif tengah digodok oleh pemerintah untuk menyulap sektor perumahan pekerja menjadi lebih modern dan ramah lingkungan. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dan Menteri Perumahan Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP)

Maruarar “Ara” Sirait baru saja mematangkan konsep kawasan perumahan masa depan yang akan terintegrasi langsung dengan jaringan gas (jargas) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Bahlil menyebut pertemuannya dengan Ara untuk membahas konsep perumahan ini berjalan sangat lancar.

“Pertemuannya berakhir dengan baik, produktif, dan paten. Pak Ara top, ya!” puji Bahlil usai pertemuan tersebut.

Menteri Ara pun tak segan membalas pujian tersebut dengan menyebut konsep ini sebagai “ide luar biasa” dari Menko Bahlil. Kebutuhan hunian terintegrasi ini menjadi sangat mendesak, terutama untuk mengakomodasi lonjakan pekerja di kawasan-kawasan industri baru.

Ara memberikan contoh nyata di Maluku Utara. Dalam kunjungannya bersama Presiden baru-baru ini, Ara melihat langsung efek domino dari investasi raksasa yang dulunya dirintis Bahlil saat masih menjabat sebagai Menteri Investasi.

“Itu 20 miliar dolar AS yang sudah jalan, 7 miliar dolar AS yang akan dijalankan, dan 70 miliar dolar AS yang akan berproses. Dari situ saja ada banyak sekali pekerja,” ungkap Ara. Ia menambahkan bahwa perumahan untuk para pekerja ini akan didesain dengan matang sejak awal, berkolaborasi langsung dengan para investor.

Proyek percontohan (pilot project) perumahan hijau ini tidak hanya akan difokuskan di Maluku Utara, tetapi juga membidik pusat-pusat industri padat pekerja di Pulau Jawa, seperti Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Bekasi.

Yang paling menarik, Ara membocorkan adanya skema strategis di Kabupaten Bekasi, tepatnya di kawasan Meikarta.

“Ada yang kita lakukan di Meikarta dari hibah Lippo 30 hektare. Nanti yang membangun dan membiayai, sesuai arahan Bapak Presiden, dari Danantara (di bawah Pak Rosan dan Pak Doni),” beber Ara.

Lalu, kapan proyek ambisius ini akan mulai dibangun?

Untuk saat ini, masyarakat tampaknya masih harus sedikit bersabar. Ara menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin gegabah dan sedang mematangkan seluruh aspek fundamentalnya. “Teknisnya kita bahas dulu, terutama regulasinya, lahannya, dan pembiayaannya,” tegas Ara.

Sementara itu, saat dicecar pertanyaan oleh wartawan mengenai kementerian teknis apa saja yang akan berada di bawah naungan Kemenko-nya, Bahlil memilih irit bicara. Ia meminta publik menunggu Peraturan Presiden (Perpres) yang menurutnya akan segera rampung.

Begitu pula saat ditanya mengenai update impor minyak tahap dua dari Rusia, Bahlil menjawab singkat karena harus segera melanjutkan agendanya.

“Nanti kalau sudah berjalan saya akan kabari, ya. Aku rapat dulu lagi,” pungkas Bahlil seraya bergegas.