sorik

Asosiasi Panas Bumi Indonesia Prihatin Atas Kejadian Menimpa Sorik Marapi Geothermal Power

Jakarta,ruangenergi.com-Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API) meminta semua pihak tidak berspekulasi dan melakukan tindakan-tindakan yang bisa menyebabkan suasana tidak kondusif atas musibah menimpa PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP).

Dimana pada  Senin (25/1) telah terjadi paparan diduga gas H2S terhadap warga masyarakat ketika berlangsung kegiatan buka sumur (well discharge) sumur SM T02 pada proyek panas bumi PLTP Sorik Marapi Unit II.

“Pertama-tama atas nama Asosiasi Panasbumi Indonesia, saya turut berduka cita yang sedalam dalamnya atas musibah ini. Saat ini investigasi penyebab musibah sedang diselidiki oleh EBTKE dan segera akan diketahui secara pasti penyebabnya. Oleh karenanya para pihak diminta untuk tidak berspekulasi dan melakukan tindakan2 yang yang bisa membuat suasana menjadi tidak kondusif. Kita harus menghargai perasaan keluarga yang ditinggalkan orang orang tercinta karena musibah ini,” kata Ketua API Prijandaru Effendi kepada ruangenergi.com,Rabu (27/01/2021) di Jakarta

API,lanjut Prijandaru,merasa sedih dan prihatin dengan musibah ini dan berharap pembelajaran yang sangat mahal dari musibah ini. Walaupun saat ini industri panasbumi sudah menempatkan keselamatan kerja dan lingkungan sebagai prioritas, namun begitu, didalam menjalankan operasinya tetap wajib berhati hati dan tidak boleh lengah.

“Ini adalah pukulan besar bukan hanya bagi perusahaan tapi juga bagi industri panasbumi di Indonesia
Mari sama-sama kita dukung dan tunggu hasil investigasi dari EBTKE mengenai apa yang terjadi dan segera melakukan perbaikan dan penyesuaian agar musibah seperti ini kedepannya tidak terjadi lagi,”pinta Prijandaru, Ketua Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API) untuk periode 2020-2023 itu  dengan nada sedih.

Dalam catatan ruangenergi.com,Direktur Jenderal  Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) Dadan Kusdiana mengatakan pihaknya memberhentikan sementara kegiatan operasional PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP).

Hal itu dikarenakan pada  Senin (25/1) telah terjadi paparan diduga gas H2S terhadap warga masyarakat ketika berlangsung kegiatan buka sumur (well discharge) sumur SM T02 pada proyek panas bumi PLTP Sorik Marapi Unit II.

“Iya betul, kejadiannya kemarin siang sekitar jam 1230. Kami langsung mengeluarkan surat pemberhentian operasi sementara dan pagi ini Tim TekLing akan meluncur ke lokasi,”kata Dadan Kusdiana kepada ruangenergi.com,Selasa (26/1/2021) di Jakarta.

Menurut dia,Direktur Panas Bumi telah menerima laporan dari pengembang lapangan panas bumi Sorik Marapi yang terletak di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara.

BACA JUGA  Strategi Pemerintah Terhadap Pengolahan Minerba di Indonesia

Kegiatan buka sumur merupakan salah satu tahapan dalam pengoperasian PLTP dan dilaksanakan dengan prosedur yang ketat. Sebelum memulai buka sumur, PT SMGP melakukan seluruh rangkaian prosedur keamanan antara lain sosialisasi kepada semua pekerja dan masyarakat, evakuasi seluruh pekerja dari wellpad, penetapan batas perimeter aman, melengkapi tim well test dengan SCBA dan gas detector, dan final sweeping sebelum kegiatan buka sumur dimulai.

Sekitar pukul 12.00 WIB, dilakukan buka sumur dengan mengalirkan steam ke silencer untuk dibersihkan sebelum dialirkan ke PLTP. Namun sekitar pukul 12.30 WIB dilaporkan ada masyarakat yang pingsan. Pada saat itu, warga sedang berada di sawah yang berjarak sekitar 300 – 500 m dari lokasi sumur panas bumi. Pada saat kejadian, seluruh alat gas detector yang ditempatkan tidak mendeteksi adanya gas H2S. SMGP memutuskan segera menutup kembali sumur.

Penanganan saat ini difokuskan untuk memberikan pertolongan kepada warga masyarakat terdampak. Status sementara terdapat 15 orang dirawat di RSUD Panyabungan dan 5 orang meninggal dunia. SMGP telah melaporkan kejadian ini kepada instansi Pemerintah terkait, Pemerintah Daerah, dan Kepolisian.

Direktur Panas Bumi, Ida Nuryatin Finahari melalui pernyataan resminya hari ini (26/1/2021) menyatakan telah menerbitkan surat penghentian sementara seluruh kegiatan/aktivitas PT SMGP di lapangan, termasuk penghentian operasi PLTP Unit I (45 MW), kegiatan pengeboran dengan 2 unit rig, dan seluruh aktivitas pengembangan PLTP Unit II. Kejadian tersebut saat ini dalam proses investigasi oleh Inspektur Panas Bumi yang dijadwalkan berangkat menuju lokasi hari ini (Selasa, 26/1).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *