Bicara di SKK Migas, Norwegia Sebut Transisi Energi Kunci Daya Saing Industri

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Transisi energi seringkali dipandang sebagai beban biaya bagi industri. Namun, paradigma ini ditepis oleh Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, Rut Krüger Giverin. Menurutnya, dekarbonisasi justru merupakan peluang strategis untuk memperkuat ekonomi negara.

Hal tersebut disampaikan Dubes Rut saat menghadiri gelaran IOGI Day 2025 bertajuk “Integrating Sustainability in The Upstream Oil and Gas” di Kantor SKK Migas, Jakarta, Selasa (16/12/2025). Kedatangannya disambut langsung oleh Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, didampingi Sekretaris SKK Migas, Lukky A. Yusgiantoro.

Dalam sambutannya, Dubes Rut menekankan pentingnya kemitraan Indonesia–Norwegia dalam mengawal transisi energi. Ia menegaskan bahwa bagi Norwegia, dekarbonisasi bukan sekadar kewajiban lingkungan semata.

“Ini adalah peluang strategis untuk memperkuat daya saing ekonomi dan ketahanan keuangan,” ungkap Rut.

Ia menambahkan bahwa melalui aksi rendah karbon yang terencana, Norwegia berupaya mendorong pertumbuhan industri hijau, inovasi teknologi, serta penciptaan nilai ekonomi jangka panjang yang berkelanjutan.

Target Ambisius Norwegia

Komitmen Norwegia tidak sekadar wacana. Dubes Rut memaparkan peta jalan (roadmap) ambisius negaranya menuju 2050 dengan target penurunan emisi gas rumah kaca yang bertahap namun pasti: Tahun 2030: Target pengurangan emisi 50–55% (dibanding tingkat tahun 1990). Tahun 2035: Target meningkat menjadi 70–75%. Tahun 2050: Mencapai 90–95% sebagai fondasi masyarakat rendah emisi.

Peta jalan ini mencakup dekarbonisasi sektor minyak dan gas, pengembangan produk industri hijau, transportasi bebas fosil, serta penguatan sistem energi yang saling terhubung.

Senada dengan semangat tersebut, Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyoroti peran vital Indonesia Oil & Gas Institute (IOGI). Menurut Djoko, IOGI adalah wujud komitmen agar setiap kebijakan dan keputusan di industri hulu migas diambil berdasarkan landasan yang kuat.

“Perumusan kebijakan harus didasarkan pada data, analisis, dan pengetahuan yang kredibel, bukan pada asumsi,” tegas Djoko.

Djoko menambahkan, peluncuran inisiatif di IOGI Day 2025 bertujuan untuk melestarikan pengetahuan (knowledge) industri, mendukung kolaborasi, serta memacu inovasi.

Menutup acara, Djoko mengingatkan bahwa upaya menjawab isu keberlanjutan—termasuk pengurangan emisi—adalah sebuah perjalanan panjang. “Namun demikian, upaya tersebut harus dimulai dengan langkah-langkah nyata dan realistis dalam jangka pendek,” pungkasnya.