BPH Migas Pastikan Stok BBM Sumatera Utara Aman Pascabencana Banjir dan Longsor

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta, ruangenergi.com – Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Wahyudi Anas meninjau ketersediaan dan proses penyaluran BBM untuk wilayah Sumatera Utara pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda beberapa pekan lalu.

Wahyudi memastikan kondisi BBM hingga awal tahun 2026 untuk kawasan terdampak bencana dalam kondisi aman.

“Kondisi status stok BBM di Fuel Terminal (FT) Sibolga aman. Tanggal 1 Januari 2026 sudah mulai dilakukan loading untuk melakukan top-up coverage days. Untuk BBM jenis Bio Solar dengan stok menjadi 6,6 hari, Pertalite mencapai 22 hari, dan Pertamax mencapai 30 hari,” ujar Wahyudi di FT Sibolga, Sumatera Utara, Kamis (01/01/2026).

Lebih lanjut Wahyudi menuturkan, dalam kondisi normal FT Sibolga menyuplai 56 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Sumatera Utara. Pascabencana banjir dan longsor, FT Sibolga menyuplai untuk 40 SPBU dan sisanya dilakukan skema Reguler, Alternatif, and Emergency (RAE) dari FT Siantar dan Integrated Terminal (IT) Teluk Kabung.

“Dengan kondisi saat ini, FT Sibolga melayani 40 SPBU yang terletak di 10 kota/kabupaten di Sumatera Utara. Pada saat kondisi RAE, FT Sibolga dibantu FT Siantar untuk melayani 11 SPBU di Tapanuli Utara dan 5 SPBU yang berada di wilayah Mandailing Natal dipasok dari IT Teluk Kabung,” imbuhnya.

Wahyudi menjelaskan penerapan skema RAE ini dilaksanakan berdasarkan kondisi lapangan, di mana terdapat akses jalan yang masih diperbaiki akibat banjir dan tanah longsor.

“Skema ini diberlakukan karena adanya jalan putus dari Tapanuli Utara ke arah Sibolga, dari Sibolga ke Mandailing Natal dan sampai hari ini masih dilakukan perbaikan jalan oleh Pemerintah. Semoga nanti dalam waktu dekat dapat dicover dari FT Sibolga dan lancar kembali,” terang Wahyudi.

Pemantauan di SPBU

Di hari yang sama, BPH Migas menyambangi salah satu SPBU yang terletak di Kecamatan Sipoholon, Tapanuli Utara. SPBU ini memiliki posisi strategis karena terletak antara jalur lintas antara Tarutung menuju Sibolga.

Jarak SPBU dari Bandara Silangit adalah sekitar 22 kilometer dan SPBU terdekat menuju Tarutung sekitar 8 kilometer.

Wahyudi menerangkan SPBU ini menjadi SPBU utama yang digunakan oleh masyarakat untuk membeli BBM saat terjadi tanah longsor dan jalur terputus Tarutung-Sibolga.

“SPBU ini sebagai pusat transit kendaraan, baik itu truk yang membawa kebutuhan masyarakat Sibolga dan Medan. Juga untuk bus angkutan umum dan pariwisata, lebih dominan dari Medan ke Tapanuli,” tutur Wahyudi.

Saat bencana dan pemulihan pascabencana, SPBU ini juga menyalurkan BBM subsidi dan kompensasi secara manual atau tanpa barcode. Berdasarkan uji petik dokumen administrasi dan pemantauan CCTV, seluruh prosedur telah diterapkan. Terdapat kesesuaian jumlah yang disalurkan kepada konsumen.

“BPH Migas langsung berkoordinasi dengan pemerintah daerah atas kondisi kedaruratan yang dibuat oleh Gubernur. Secara transaksi kendaraan yang digunakan untuk masyarakat yang terkena bencana, dilaksanakan dengan baik, administrasi jelas, surat rekomendasi dari pemda juga tersedia dikumpulkan setiap bulan selama periode bencana alam,” ucap Wahyudi.

Sales Area Manager Pertamina Patra Niaga (PPN) Area Sibolga Toni Pradana menyampaikan bahwa jalur utara di Tarutung dan jalur akses selatan yang menuju Mandailing Natal dan Tapanuli Selatan kini sudah lebih baik dengan adanya skema RAE dan pengoperasian mobil tangki (MT) cadangan.

“Alhamdulillah, kondisinya saat ini jalur utara sudah lebih normal dengan masih melakukan skema RAE melalui perbantuan tambahan MT, dan untuk jalur selatan sudah bisa dilewati. Dengan recovery ini, kondisi jalur utara dan jalur selatan sebelum Natal kemarin sudah normal. Sehingga, masyarakat sudah dapat memenuhi kebutuhan BBM nya,” tutur Toni.

Selama perjalanan dari Tapanuli Utara menuju Sibolga, BPH Migas meninjau proses pembukaan jalan yang tertimbun longsor dan penggeseran jalan akibat jalannya putus yang dilaksanakan oleh PT. Pembangunan Perumahan (PP) Persero di Desa Rampa, Kecamatan Sitahuis, Tapanuli Tengah. Perbaikan dilakukan dengan menggunakan beberapa alat berat untuk menyelesaikan sisa lumpur yang masih berada di jalanan. Kondisi terkini disampaikan bahwa longsor sudah tidak terjadi walaupun di tengah kondisi hujan, namun potensi akan terjadi apabila curah hujan intensitas tinggi dari puncak perbukitan.

Kegiatan pemantauan ini turut dihadiri Anggota Komite BPH Migas Bambang Hermanto, FT Manager Sibolga Zainal Arifien dan Sales Branch Manager PPN Sibolga Farisan Pratama.