Anggota DEN Herman Darnel Ibrahim : Sektor Batubara Masih Berperan Penting Menjaga Harga Listrik Tetap Murah

Jakarta, ruangenergi – Anggota Dewan Energi Nasional Herman Darnel Ibrahim menjadi narasumber dalam FGD “Transisi Energi di Sektor Batubara Dalam Kerangka Kebijakan Energi Nasional” yang diselenggaran oleh Publish What You Pay (PWYP) Indonesia melalui daring pada Selasa (27/7).

Maksud dan tujuan dari FGD ini adalah menggali masukan dari para stakeholders dan pakar bidang energi dan energi terbarukan terkait isu transisi energi dan masa depan pemanfaatan batubara di Indonesia. Sekaligus dapat memberikan rekomendasi yang dituangkan dalam policy brief.

Dalam FGD tersebut juga turut hadir sebagai narasumber antara lain perwakilan Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara. Kemudian Badan Perencanaan Pembagunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sumatera Selatan serta perwakilan Institute for Essential Service Reform.

Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) merupakan landasan kebijakan pemerintah Indonesia terkait pengelolaan energi dengan prinsip berkeadilan, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan. KEN terdiri dari kebijakan utama yang meliputi ketersediaan dan pemanfaatan energi nasional, dan prioritas pengembangan energi, dan kebijakan pendukung yang meliputi konservasi energi dan sumber daya energi, diversifikasi energi, lingkugan hidup, kelembagaan dan pendanaan, serta infrastruktur dan akses masyarakat terhadap energi.

Sebagai tindak lanjut dari KEN, pemerintah menetapkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 22 Tahun 2017, yang merupakan penjabaran dan rencana pelaksanaan KEN bersifat lintas sektor untuk mencapai sasaran dari KEN. Sasaran utama RUEN adalah agar sumber energi dan/atau sumber daya energi digunakan untuk modal pembangunan guna kemakmuran rakyat, dengan cara mengoptimalkan pemanfaatannya bagi pembangunan ekonomi nasional, penciptaan nilai tambah di dalam negeri dan penyerapan tenaga kerja.

Publish What You Pay (PWYP) Indonesia saat ini sedang menyusun policy brief yang ditujukan sebagai masukan terhadap kebijakan energi di Indonesia, khususnya sektor batubara. Policy brief ini akan mencoba melakukan bacaan kritis skema kebijakan energi pemerintah Indonesia dalam kebijakan RUEN. Policy Brief ini juga akan melihat secara kritis bagaimana daerah (provinsi) menerjemahkan RUEN ke dalam RUED dan mencoba mengidentifikasi persoalan-persoalan yang dihadapinya.

BACA JUGA  HUT Pertamina ke 63 Tahun, PPN Hidupkan Energi untuk Kemajuan Negeri

Dalam kesempatan diskusi, Herman menuturkan bahwa dalam skenario transisi energi di Indonesia, Batubara masih memiliki peranan yang cukup besar.

“Batubara hingga saat ini masih berperan kuat untuk menjaga harga listrik tetap murah dan terjangkau. Batubara juga masih berperan sebagai base load atau mengamankan pasokan listrik. Berdasarkan skenario pertama, sampai Peak Emission yang diperkirakan terjadi pada Tahun 2050, fosil masih akan tetap tumbuh dan phase out energi fosil akan terjadi setelahnya untuk kemudian mencapai Net Zero Emission pada tahun 2070. Sementara pada skenario kedua transisi energi Net Zero Emission Tahun 2050, maka Peak Emission harus dicapai pada Tahun 2030 hingga 2035”, ujarnya.

Sementara itu, Direktorat Pembinaan Pengusahaan Batubara melalui Cecep M Yasin menuturkan bahwa potensi ekspor batubara dikawasan Asia Pasifik masih cenderung stabil dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. “Tren global penurunan pemanfaatan batubara akan diantisipasi dengan percepatan pengembangan peningkatan nilai tambah batubara dengan penerapan teknologi ramah lingkungan.

Diakhir sesi, Herman menyampaikan bahwa ia memperkirakan jika hingga Tahun 2050 yang mungkin dicapai adalah Peak Emission dengan porsi bauran energi baru terbarukan yang mencapai 50% konsumsi energi primer.

“Phase out energi batubara belum diperlukan sebelum terjadinya Peak Emission karena sampai Peak Emission pasokan EBT belum mampu memenuhi seluruh Delta pertumbuhan. Phase Out yang terlalu ambisi bisa menyebabkan krisis atau defisit”, pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *