Dari AS, Menteri ESDM Ungkap Rencana Perpanjangan Kontrak Raksasa Migas hingga 2055

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Washington, D.C, Amerika Serikat, ruangenergi.com-Dalam siaran langsung konferensi pers dari Amerika Serikat pada Jumat (20/2/2026), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengungkap perkembangan penting terkait komunikasi pemerintah Indonesia dengan perusahaan minyak raksasa ExxonMobil. Pernyataan itu menyoroti potensi perpanjangan kerja sama besar yang dinilai strategis bagi ketahanan energi nasional.

Bahlil menyampaikan bahwa ExxonMobil merupakan salah satu perusahaan migas Amerika Serikat yang telah beroperasi di Indonesia selama lebih dari satu abad dan menjadi kontributor lifting minyak terbesar selain Pertamina. Saat ini, produksi perusahaan tersebut berada di kisaran 170.000–185.000 barel per hari, angka yang disebutnya masih sangat signifikan dalam menopang produksi nasional.

Menurut Bahlil, pemerintah Indonesia tengah menjajaki perpanjangan kerja sama hingga tahun 2055, dengan tambahan investasi yang diperkirakan mencapai sekitar 10 miliar dolar AS. Namun, ia menegaskan bahwa masih ada beberapa aspek yang harus diselesaikan sebelum kesepakatan final tercapai.

“Ada beberapa hal yang harus kita clearkan, termasuk sharing cost recovery antara pendapatan negara dan pendapatan kontraktor,” ujar Bahlil dalam konferensi pers tersebut.

Ia menambahkan bahwa proses pembahasan itu sudah berada pada tahap akhir dan menjadi bagian dari komunikasi bilateral yang lebih luas, tidak hanya antara pemerintah Indonesia dan perusahaan swasta, tetapi juga melibatkan pemerintah Amerika Serikat.

Langkah ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa pemerintah tengah mendorong kepastian investasi sektor hulu migas sekaligus menjaga keseimbangan antara kepentingan negara dan investor. Jika terealisasi, perpanjangan kontrak dan tambahan investasi tersebut berpotensi memperpanjang umur produksi lapangan serta menjaga stabilitas lifting nasional dalam jangka panjang.