Dari Mina Padi hingga Abon Ikan, PHKT Dorong Kemandirian Pangan di PPU

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Penajam Paser Utara, Kaltim, ruangenergi.com – Upaya membangun ketahanan pangan tak selalu harus dimulai dari proyek besar. Di Desa Sebakung Jaya, Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, integrasi pertanian dan perikanan menjadi jalan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Inisiatif tersebut dikembangkan PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) bertajuk Gerbang Insan Mapan. Program yang diinisiasi sejak 2022 ini menggabungkan budidaya padi dan ikan, pengembangan teknologi perikanan, hingga pengolahan hasil panen menjadi produk bernilai tambah.

Untuk melihat langsung perkembangan program tersebut, PHKT memfasilitasi kunjungan 22 jurnalis lokal dari Kabupaten PPU pada 17 Oktober 2026. Para jurnalis diajak menyaksikan inovasi yang diterapkan, berdialog dengan kelompok masyarakat binaan, serta menggali cerita tentang peluang dan tantangan dalam membangun kemandirian pangan berbasis potensi lokal.

Mina padi, satu lahan dua komoditas

Gerbang Insan Mapan merupakan singkatan dari Gerakan Pembangunan Integrasi Perikanan dan Pertanian Menuju Kemandirian Pangan. Salah satu inovasi unggulannya adalah sistem mina padi, yakni budidaya ikan dan tanaman padi dalam satu lahan.

Melalui pendekatan ini, petani tidak hanya mengandalkan hasil panen padi, tetapi juga memperoleh peluang pendapatan dari budidaya ikan. Integrasi kedua sektor tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas lahan sekaligus memperkuat ketersediaan pangan masyarakat.

Head of Communication Relations & CID Zona 10 PHKT, Elis Fauziyah, mengungkapkan bahwa lahan percontohan yang dikembangkan sejak awal program kini telah tumbuh menjadi sekitar 10 hektare lahan mina padi.

Perkembangan ini menunjukkan bagaimana inovasi berbasis potensi lokal dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi masyarakat, terutama ketika pengembangan pertanian berjalan beriringan dengan sektor perikanan.

“Program Gerbang Insan Mapan berhasil mengintegrasikan sektor pertanian dan perikanan untuk mendukung ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas, serta membuka peluang ekonomi berkelanjutan,” jelas Elis.

Tak berhenti pada budidaya

Gerbang Insan Mapan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi pertanian dan perikanan. Program ini juga mendorong masyarakat mengembangkan nilai tambah dari hasil budidaya.

Melalui kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) Biawan, masyarakat mengembangkan pengolahan ikan menjadi produk seperti abon dan kerupuk ikan. Langkah ini membuka peluang usaha produktif sekaligus memperluas ruang keterlibatan kelompok perempuan dalam kegiatan ekonomi masyarakat.

Ketua Pokdakan Biawan, Bintang Wahyu Aji, menjadi salah satu penggerak masyarakat dalam pengembangan program tersebut. Bersama kelompok binaan, berbagai inovasi terus diupayakan agar kegiatan pertanian dan perikanan dapat berkembang sesuai kebutuhan di lapangan.

Penguatan kapasitas kelompok menjadi aspek penting agar kegiatan usaha tidak hanya berjalan selama mendapat pendampingan, tetapi juga dapat dikelola secara mandiri dan berkelanjutan.

Sejumlah inovasi pendukung turut diperkenalkan dalam program ini, mulai dari budidaya ikan menggunakan sistem bioflok, pemanfaatan Micro Bubble Generator (MBG) untuk mendukung produktivitas budidaya, hingga penggunaan mesin pencacah untuk membantu penyediaan pakan ikan.

PHKT juga mendukung ketersediaan air melalui sumur bor untuk menghadapi kondisi musim kemarau. Sementara itu, GIM’s Cafe dikembangkan sebagai ruang bagi kelompok binaan untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, dan mengembangkan usaha bersama.

Rangkaian upaya tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan ekonomi masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar bantuan sarana produksi. Teknologi, penguatan keterampilan, pengolahan hasil, dan kolaborasi menjadi bagian dari proses membangun usaha yang memiliki peluang tumbuh dalam jangka panjang.

Media lokal ikut mengawal cerita pemberdayaan

Kunjungan 22 jurnalis lokal itu juga menjadi bagian dari upaya PHKT meningkatkan kapasitas media dalam meliput program pemberdayaan masyarakat.

Dengan melihat langsung aktivitas kelompok binaan, jurnalis diharapkan memperoleh gambaran lebih utuh mengenai proses pengembangan program, penerapan inovasi, serta manfaat dan tantangan yang dihadapi masyarakat.

Elis menilai keterlibatan media memiliki arti penting dalam menyampaikan informasi mengenai program tanggung jawab sosial perusahaan kepada publik.

“Melalui kunjungan langsung ini, jurnalis akan memiliki perspektif yang lebih lengkap sehingga mereka dapat menghasilkan berita yang akurat, positif, inspiratif, dan edukatif bagi masyarakat,” ujarnya.

Bagi PHKT, keberhasilan program pemberdayaan masyarakat tidak semata-mata ditentukan oleh inovasi yang dikembangkan, tetapi juga dukungan berbagai pemangku kepentingan, termasuk insan media.

Kolaborasi tersebut diharapkan membuka ruang bagi pemberitaan yang faktual dan mendalam mengenai inovasi sosial serta perkembangan kelompok masyarakat binaan.

Sebagai anak perusahaan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) di Zona 10, PHKT mengelola operasi dan bisnis hulu migas di Wilayah Kerja Kalimantan Timur dan Attaka dengan menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

Melalui Gerbang Insan Mapan, perusahaan turut mendorong pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasinya. Di Sebakung Jaya, integrasi pertanian dan perikanan menjadi salah satu upaya untuk menghubungkan ketahanan pangan dengan peluang ekonomi lokal.

Tantangan berikutnya adalah memastikan inovasi yang telah dikembangkan dapat terus memberikan manfaat, meningkatkan nilai tambah produk, dan memperkuat kemandirian kelompok masyarakat dalam jangka panjang.