Demi Warisan Anak Cucu, Bahlil Rela Pangkas Target Batu Bara RI, Catat Itu!

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan untuk “menginjak rem” produksi batu bara nasional pada tahun 2026. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan target produksi emas hitam tahun ini akan dipangkas drastis menjadi di kisaran 600 juta ton.

Langkah strategis ini diambil demi dua tujuan besar: mendongkrak harga komoditas di pasar global dan menjaga “napas” cadangan energi untuk generasi mendatang.

“Yang jelas ya di sekitar 600 juta lah, sekitar itu. Bisa kurang, bisa lebih dikit,” ujar Bahlil kepada awak media di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Meski angka pastinya belum dikunci, Bahlil menegaskan bahwa penurunan target ini serius. Saat ini, pihaknya bersama Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) tengah melakukan kalkulasi ulang terkait kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan tambang.

“Lewat kesempatan berbahagia ini, ESDM, sudah saya rapatkan dengan Dirjen Minerba, kita akan melakukan revisi daripada kuota RKAB. Pak Dirjen Minerba lagi menghitung,” jelasnya.

Alasan utama pemangkasan ini adalah hukum ekonomi dasar: supply and demand. Bahlil mengklaim, dengan membatasi pasokan (supply) dari Indonesia sebagai salah satu eksportir terbesar dunia, diharapkan harga batu bara global akan kembali kompetitif dan menguntungkan negara.

“Jadi produksi kita akan turunkan supaya harga bagus,” tegas Bahlil.

Selain motif ekonomi, mantan Menteri Investasi ini juga menyoroti aspek keberlanjutan. Ia mengingatkan bahwa kekayaan alam tidak boleh dieksploitasi habis-habisan dalam satu waktu.

“Tambang ini juga kita harus wariskan kepada anak cucu kita. Jadi jangan cara berpikir kita mengelola sumber daya alam itu seolah-olah harus selesai semua sekarang,” tuturnya.

Ia menambahkan, prinsip keadilan antargenerasi dan pelestarian lingkungan harus tetap dijaga agar bangsa ini bisa terus berjalan. Kebijakan pengendalian produksi ini, menurut Bahlil, tidak hanya berlaku untuk batu bara, tetapi juga komoditas mineral lain seperti nikel.

Jika dibandingkan dengan capaian tahun-tahun sebelumnya, target 600 juta ton ini merupakan penurunan yang sangat signifikan.

Sebagai catatan, pada tahun 2025, realisasi produksi batu bara nasional tembus di angka 790 juta metrik ton, jauh melampaui target yang ditetapkan sebesar 739,56 juta ton. Sementara pada 2024, realisasi produksi bahkan mencapai rekor 836 juta metrik ton dari target 710 juta ton.

Dengan target baru di kisaran 600 juta ton, artinya pemerintah berencana memangkas produksi hampir 200 juta ton dibandingkan realisasi tahun lalu.